Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #9

Hari Ketujuh: Pikiran yang Tenang

9

Hari Ketujuh: Pikiran yang Tenang

 

 

Sejak pagi-pagi, Hanum sudah berdiri di perempatan, ikut berbaris bersama ibu-ibu lain yang menunggu giliran membeli nasi uduk. Udara pagi masih lembab, aroma parutan kelapa berempah dan bawang goreng dari gerobak nasi uduk menyeruak, membuat perutnya semakin keroncongan. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok istri Pak Surip yang baru saja pulang dari pasar. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan yang ia bawa dengan langkah mantap.

Sebelum terlintas niat untuk membeli nasi uduk, Hanum sempat menoleh ke arah rumah Pak Surip dan memperhatikannya dengan saksama. Rumah itu terlihat lengang. Rumah itu kini dihuni oleh empat orang—Pak Surip, istrinya, Asih, dan Yakub. Beban hidup keluarga itu semestinya sudah jauh berkurang, terlebih Asih bekerja di pabrik dan Yakub yang sekolah di STM bekerja paruh waktu di bengkel. Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi ada semacam keteguhan yang membuat rumah itu tetap berdiri kukuh.

Hanum, tanpa sadar, membiarkan pikirannya melayang pada keluarga Pak Surip. Ia mengenal keluarga itu sejak kanak-kanak, yang selalu berbaik hati membantu keluarganya meski hanya sebatas yang mereka mampu. Ada rasa iba bercampur kagum yang sulit ia jelaskan. Ada banyak kisah yang berkelindan dalam kehidupan keluarga itu yang sulit ia pahami.

“Komplet, Bu?”

Hanum tersentak mendengar pertanyaan penjual nasi uduk.

“Ya,” jawabnya terbata-bata.

Penjual itu membungkus nasi uduk pesanannya, memasukkan krupuk dan gorengan ke dalam plastik bening, lalu menyerahkannya pada Hanum yang buru-buru membayar dengan uang pas. Ia tidak tahan berlama-lama bersama orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya meski sekampung. Ketika ia baru sampai di jalan depan rumahnya, Budhe Hartini tampak berdiri di depan pintu pagar. 

“Kata Pakdhemu, kamu kemarin datang ke rumah,” ujar Budhe Hartini setelah Hanum mendekat.

“Ya, hanya ingin main ke tempat Budhe. Masuk dulu yuk!”

Hanum membuka pintu pagar, diikuti Budhe Hartini yang berjalan mengikutinya di belakang. Sesampainya di teras, Budhe Hartini duduk di kursi rotan dekat pintu.

“Tidak di dalam saja, Budhe?”

“Di sini saja. Masih pagi, udaranya segar.”

“Ya, sudah. Aku taruh ini dulu.”

Hanum meletakkan nasi uduk yang dibelinya di meja ruang tamu, lalu kembali ke teras. Budhe Hartini menatap jalan di depan rumah yang kadang lewat dua atau tiga kendaraan bermotor.

“Kamu sudah membicarakan rencana penjualan rumah ini dengan Eka, Num?”

Hanum menghela napas panjang. 

“Belum, Budhe.”

“Pakdhemu sudah bilang kalau kamu harus membicarakannya segera dengan Eka ‘kan?”

“Itu benar. Hanya saja ….”

“Kamu pasti bingung harus bilang apa sama Eka soal keberatan kamu kalau Radit yang membeli rumah ini.”

“Ya soalnya aku khawatir Mas Eka menganggap enteng soal itu.”

“Budhe mengerti.”

Keduanya terdiam, bergulat dengan pikiran masing-masing.

“Ehm, Budhe. Kenapa Pak Surip sangat khawatir dengan Radit yang berminat membeli rumah kami? Budhe tahu seberapa buruk hubungan mereka?”

Hanum memberanikan diri untuk bertanya perihal Pak Surip, seraya memandang wajah Budhe Hartini yang nyaris tidak berubah ekspresi.

“Ya, memang tidak bisa dilihat di permukaan. Yang namanya orang kampung ‘kan punya cara sendiri agar apa yang sebenarnya ada di pikiran tidak lahir dalam kenyataan.”

“Penjelasan Budhe kok ikut-ikutan rumit.”

“Pertanyaanmu juga sulit dijelaskan dengan kalimat yang sederhana.”

Hanum tertawa.

“Ya sudah. Kamu ingin Budhe menjelaskannya seperti apa?”

“Ya tinggal dijawab ‘hubungan keduanya sangat buruk sampai bermusuhan’ atau ‘tampak biasa saja’.”

“Menurut Budhe, Surip sepertinya menyimpan dendam kesumat pada Radit,” jawab Budhe Hartini tegas.

“Nah, begitu ‘kan jelas,” sambut Hanum dengan perasaan lega.

“Akar masalahnya, orang-orang sekampung juga sudah tahu.”

Lihat selengkapnya