Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #10

Hari Ketujuh: Pikiran yang Damai

10

Hari Ketujuh: Pikiran yang Damai

 


Kedatangan Haris yang tiba-tiba membuat ketenangan Hanum sedikit terganggu. Haris mengajaknya pulang ke Jakarta. Hanum menimbang dalam hati. Ia masih berat untuk pergi dan meninggalkan kampung ini. Ia pikir ia tidak ingin ikut pulang bersama Haris. Ia masih harus tetap di sini sampai ia merasa tenang dan pikirannya kembali damai. Urusan penjualan rumah mungkin tidak selesai sampai ia menuntaskan masa cutinya. Tapi, ia pikir ia masih punya kesempatan untuk menggali inti persoalan yang melatarbelakangi kepergian Ningrum. Kepergian adiknya yang tidak wajar itu terus menghantuinya. Ia tahu, ia masih memiliki harapan untuk bisa menemukan sedikit saja kebenaran yang menjadi jawaban yang melegakan.

“Kamu kok diam saja, Num?” usik Haris yang sedari tadi sibuk mengganti saluran televisi membuyarkan pikiran Hanum.

“Eh, iya.”

“Aku mengganggu kamu, ya? Aku sebenarnya tidak ada pikiran untuk mampir, tapi aku ingin juga menengok rumah ini sekalian menemani kamu. Aku heran kamu betah tinggal sendiri di rumah ini.”

“Jadi begitu?”

“Kamu kenapa aneh? Tidak biasanya kamu tidak mendebatku.”

Hanum bimbang untuk bilang tidak jadi pulang pada Haris, tapi ia benar-benar belum ingin pulang.

“Mas?”

Haris menoleh.

“Aku tidak jadi ikut Mas Haris pulang besok.”

“Tidak jadi pulang?”

“Iya. Aku masih ingin tetap di sini.”

Haris menatap Hanum.

“Tidak apa-apa ‘kan, Mas?”

“Tidak masalah. Apa kamu masih penasaran?”

“Aku hanya menemukan penyebab Ningrum mengakhiri hidupnya dengan tidak wajar adalah perundungan yang dilakukan oleh orang-orang sekampung. Mereka menyebut Ningrum mandul dan pembawa pengaruh buruk. Omongan menyakitkan itu memengaruhi Ibu hingga memperlakukan Ningrum seolah ia tidak ingat kalau Ningrum itu anaknya.”

“Masuk akal sih. Ningrum bisa saja tertekan dan tak mampu menahan diri untuk tidak mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. Terus, apa kaitannya dengan Radit?”

“Radit itu anaknya Bu Zariyah, perempuan tua yang dulu menyebar isu tentang Ningrum. Aku hanya tidak rela saja kalau Radit yang membeli rumah ini.”

“Kalau aku sih bisa memahami kalau kamu tidak terima rumah ini jatuh ke tangan Radit, entah kalau Eka.”

Ada notifikasi muncul di ponsel Hanum, pesan dari Budhe Hartini.

“Dari siapa?” tanya Haris.

“Dari Budhe Hartini. Katanya, mumpung masih agak sore, aku disuruh ke rumahnya. Ada acara pengajian. Sekalian makan di tempatnya.”

“Ya, ayo kita ke sana! Aku temani.”

“Kita tidak jadi makan ayam goreng malam ini. Aku simpan dulu buat besok.”

“Oke.”

Lihat selengkapnya