Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #11

Hari Kedelapan: Bukti Baru

11

Hari Kedelapan: Bukti Baru

 

 

Hanum membeli sebungkus kantong plastik ukuran jumbo di toko plastik yang kebetulan tak jauh dari rumah. Kantong-kantong itu akan dipakainya untuk menyingkirkan barang-barang di rumah yang perlu dibuang atau dijual ke tukang loak. Budhe Hartini pernah berpesan agar ia membereskan dulu semua barang milik keluarga sebelum rumah dijual. Karena itu, Hanum harus menyelesaikan acara beres-beres hari ini. Setelah selesai, ia bisa meminta bantuan Pak Surip untuk mengurus sisanya.

Barang-barang di kamarnya tidak terlalu banyak. Sebagian sudah ia bawa ke Jakarta, begitu pula dengan isi kamar Eka dan Ibu. Saat terakhir masuk ke kamar Ibu, yang tersisa hanya perabotan, seperti meja, kursi, cermin rias, dan tempat tidur. Sementara itu, pakaian serta barang-barang peninggalan Ibu lainnya sudah dibagikan kepada saudara-saudaranya. Untuk sisa perabotan, Hanum merasa tidak bisa memutuskan sendiri. Ia perlu meminta pertimbangan Eka terlebih dahulu.

Hari ini, Hanum berniat membersihkan kamar Ningrum. Baju, buku, tas, dan berbagai benda yang pernah digunakan Ningrum semasa hidup masih tersimpan rapi di sana. Ia melangkah masuk, lalu membuka jendela lebar-lebar agar sinar matahari dan udara segar memenuhi ruangan. Pandangan Hanum kemudian tertumbuk pada deretan novel di rak paling atas. Ia berpikir, buku-buku itu mungkin bisa disumbangkan ke perpustakaan yang membutuhkan. Dengan hati-hati, Hanum mulai memasukkan baju-baju Ningrum ke dalam kantong plastik, disusul buku-buku, lalu tas dan dompet yang kondisinya masih baik.

Sekarang, Hanum tinggal memasukkan barang-barang acak, macam staples, sisir, alat potong kuku, hiasan rambut, hingga gunting, ke dalam satu plastik. Namun, perhatiannya mendadak tertuju pada laci paling bawah lemari yang belum sempat ia periksa. Ia menarik laci itu perlahan, seolah yakin ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Benar saja, di sana ada sabun pencuci muka yang masih terbungkus rapi, sepasang kaus kaki baru, gulungan lakban bening, dan sebuah paket kecil yang belum dibuka. Hanum meraih paket itu, segelnya masih utuh, lalu menimang-nimangnya dengan rasa penasaran. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya memutuskan untuk membuka paket persegi kecil tersebut.

“Pakai gunting yang tadi,” serunya.

Hanum mengambil gunting di salah satu plastik untuk membuka paket kecil itu. Ia hanya menemukan sebuah flashdisk 32 GB. Ia mengamati benda kecil itu di tangannya. Ia pikir flashdisk itu masih baru, tapi ada tulisan dengan huruf kecil yang tertera di salah satu sisi. Tulisan itu sulit dibaca, tapi sudah cukup menjelaskan kalau flashdisk itu bukan flashdisk kosong. Hanum penasaran kira-kira apa isinya.

“Tidak salah ‘kan kalau aku lihat isinya,” gumam Hanum.

Flashdisk itu tersimpan di dalam wadah plastik kemasannya. Tapi, ada catatan kecil yang dilipat dan disegel pula dengan isolasi bening pada bagian belakang wadah flashdisk itu. Hanum mengambil catatan itu dengan hati-hati agar tidak robek. Ia berhasil mendapatkannya dan mulai membukanya.   

“Wah, tulisannya kecil sekali seperti contekan.”

Hanum membaca dengan saksama tulisan tangan yang rapi itu. Dahinya berkerut ketika menemukan nama Pak Anjas disebut dalam catatan tersebut. Intinya, catatan itu berisi pesan dari teman Ningrum bernama Ravika, yang menitipkan flashdisk agar disimpan di tempat aman dan tidak jatuh ke tangan Pak Anjas.

“Sepertinya rahasia yang sangat penting.”

Hanum menatap flashdisk berwarna putih dengan tutup transparan itu cukup lama, seolah ingin menembus rahasia yang tersimpan di dalamnya. Benda kecil itu sengaja dititipkan Ravika kepada Ningrum, namun Ningrum tak pernah sempat membukanya. Mungkin ia lupa, atau karena hidupnya saat itu penuh perjuangan melawan penyakit hingga benda kecil ini terabaikan. Sayangnya, Hanum tidak membawa laptop. Ia pun sadar, di kampung ini ia tak punya kenalan yang bisa meminjamkan komputer atau laptop. Warung internet yang dulu menyediakan jasa penyewaan per jam sudah lama tutup.

Hanum menyelipkan flashdisk beserta catatan itu ke dalam kantong bajunya. Dari luar jendela, sinar matahari tampak menyengat, panasnya merambat hingga ke dalam kamar Ningrum. Ia pun memutuskan menyudahi kegiatan bersih-bersih. Kantong-kantong plastik berisi barang-barang Ningrum dibawanya keluar kamar. Untuk sementara, Hanum akan menaruh barang-barang yang harus dibuang, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau dijual ke tukang loak di teras.

  

---

 

Hanum harus memasak untuk makan siang, tetapi persediaan sayur di kulkas sudah benar-benar habis. Rasa malas membuatnya enggan keluar mencari makan di luar. Pikiran pun beralih pada pilihan lain yang lebih mudah, memesan lewat jasa antar makanan online. Ia meraih ponsel, membuka aplikasi, dan mulai menelusuri menu.

Ia sebenarnya hanya ingin makan bakso. Ia bahkan berniat membeli dua bungkus sekaligus, agar nanti sore tidak perlu bingung mencari makan lagi. Pesanan itu sudah ia masukkan ke keranjang berwarna kuning, tinggal menekan tombol bayar. Namun, tepat saat itu, sebuah notifikasi pesan masuk dari Haris muncul di layar ponselnya, membuat Hanum menunda niatnya. 

Hanum membaca sekilas pesan dari Haris. Haris menuliskan bahwa ia sudah berbicara dengan Eka, yang masih mempertimbangkan kemungkinan untuk tidak menjual rumah mereka kepada Radit. Hanum segera membalas, menyampaikan bahwa ia tidak puas dengan tanggapan Eka. Tak lama kemudian, Haris mengirim balasan lagi. Ia berjanji akan mencoba berbicara sekali lagi dengan Eka. Hanum hanya bisa menutup percakapan itu dengan singkat, mengatakan bahwa semua terserah Haris saja.

“Mbak Hanum!”

Asih di luar memanggil namanya sembari mengetuk pintu berulangkali. Hanum buru-buru membukakan pintu untuknya. Asih membawa kardus putih yang dimasukkan ke dalam plastik bening, kemudian ada kerupuk, jeruk, dan minuman air putih kemasan di atasnya.

“Ini buat Mbak Hanum, buat makan siang.”

Hanum menerimanya dengan senang hati. Untung ia belum checkout, ada rezeki tak terduga datang.

“Terima kasih,” ujar Hanum.

Asih memandangi plastik-plastik yang ada di teras.

“Mbak Hanum beres-beres, ya?”

Lihat selengkapnya