12
Hari Kedelapan: Teka-teki yang Membingungkan
Hanum baru saja bersiap keluar untuk membeli mi instan di warung. Langkahnya terhenti di depan pintu pagar. Sore itu, Pak Surip datang menemuinya. Lelaki tua itu tampak membawa sesuatu dalam tas plastik hitam yang digenggam erat di tangannya. Hanum menyambutnya, lalu mempersilakannya duduk. Mereka pun akhirnya berbincang di teras, ditemani semilir angin sore yang membuat suasana percakapan terasa lebih tenang.
“Barang-barang yang sudah tidak terpakai sudah saya bakar di belakang rumah. Tinggal yang dijual ke tukang loak,” ujar Pak Surip.
“Wah, terima kasih. Nanti kalau laku dijual, uangnya buat Pak Surip saja. Saya sudah senang dibantu. Soalnya repot mengurus sendiri.”
“Ya, Mbak. Saya mengerti. Terima kasih juga sebelumnya. Oh, ya. Ini ada titipan dari ibunya Asih.”
Pak Surip memberikan tas plastik hitam itu pada Hanum.
“Apa ini, Pak?”
“Itu emping melinjo.”
“Pak Surip ini kok repot-repot.”
“Hitung-hitung bagi berkah.”
“Oh, syukuran yang tadi?”
“Iya. Asih akan menikah.”
“Oh, benarkah? Saya ikut senang mendengarnya.”
“Mohon doanya agar Asih diberikan kelancaran.”
“Tentu, Pak Surip. Tadi Asih dua kali ke sini, dia tidak bilang apa-apa soal itu.”
“Asih itu ‘kan anaknya pemalu. Harap maklum.”
“Iya, saya mengerti. Padahal, kami juga sempat mengobrol lama. Dia bilang ke saya kalau buku-buku koleksi Ningrum sudah dia berikan ke perpustakaan milik adiknya Ravika.”
“Oh, perpustakaannya si Ahmad.”
“Namanya Ahmad?”
“Iya. Ahmad itu adiknya Ravika yang paling bungsu. Ravika itu anak yang paling tua, yang tengah Virna.”
“Ahmad mengelola perpustakaan mandiri?”
“Dulu, perpustakaan itu dibangun sebuah yayasan terus Ahmad yang menjadi pengurusnya. Lokasinya menempati mushola dekat rumahnya almarhumah Bu Dini, adiknya Bu Sinta.”
“Kok aku tidak pernah tahu kalau dekat rumah Bulik Dini ada perpustakaan?”
“Belum lama. Baru dua atau tiga tahun ini.”
“Oh, ya.”
“Kalau begitu, saya pamit.”
“Ya silakan, Pak.”