Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #13

Hari Kesembilan: Masih Mencari Jawaban

13

Hari Kesembilan: Masih Mencari Jawaban

 

 

Hanum penasaran dengan perpustakaan kecil yang pernah diceritakan Asih dan Pak Surip. Sekitar pukul sepuluh, Hanum mendatangi perpustakaan, yang kata Pak Surip, menempati sebuah ruangan yang ada di mushola. Perpustakaan pasti masih sepi sebelum waktu zuhur. Ia memilih berjalan kaki menuju perpustakaan yang konon letaknya tak jauh dari rumah Bulik Dini tersebut.

Pemukiman tempat Bulik Dini tinggal cukup padat. Rumah-rumah berdiri berhimpitan, seolah saling menempel satu sama lain. Rumah Bulik Dini sendiri berbentuk memanjang, bersebelahan langsung dengan rumah mertuanya. Dari kejauhan, Hanum sempat melihat bangunan itu, namun ia tidak berniat untuk mampir. Langkahnya tetap terarah menuju perpustakaan.

Hanum tidak berani ke rumah Bulik Dini setelah saudara ibunya itu meninggal, apalagi tanpa ditemani Eka. Ia akan merasa canggung bila harus berhadapan dengan sepupu-sepupunya yang terkenal cerewet. Lebih dari itu, Hanum tidak tahan dengan sikap mereka yang selalu ingin tahu urusan keluarga, termasuk hal-hal yang bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya paham. Berbeda dengan dirinya, Eka selalu mampu menghadapi mereka. Kakaknya itu seolah memiliki cara alami untuk mencairkan suasana. Hanum menyadari, ia tidak memiliki ketenangan seperti Eka, dan itulah yang membuatnya semakin enggan untuk datang.

Bangunan mushola mulai tampak di ujung jalan. Hanum teringat, dulu mushola itu hanya sebuah bangunan kecil yang jarang digunakan orang. Kini, di sampingnya berdiri tambahan ruangan. Di halaman, seorang laki-laki tampak sibuk menyapu. Hanum memperhatikan sosok itu dengan ragu. Setelah menarik napas, Hanum memberanikan diri melangkah lebih dekat dan menyapanya.

“Maaf, apa ini perpustakaan yang dikelola Pak Ahmad?”

“Benar.”

“Bapak ini Pak Ahmad?”

“Bukan, saya pamannya Ahmad. Ahmad masih sekolah.”

“Masih sekolah?”

“Iya. Maaf, Ibu mau mencari Ahmad?”

“Saya hanya ingin melihat-lihat.”

“Masuk saja!”

“Boleh, ya?”

“Silakan!”

Hanum melepas alas kakinya dan masuk ke ruangan yang luasnya tidak seberapa itu. Ada tiga rak kayu sederhana yang dipenuhi buku-buku, kemudian meja dan dua kursi.

“Tolong, ini diisi dulu?” pinta si bapak yang sudah selesai menyapu dan masuk ke dalam perpustakaan, seraya menyerahkan buku tamu untuk diisi.

“Iya. Teman saya bilang ada perpustakaan di kampung ini, saya jadi ingin melihat.”

“Ibu tinggal di mana?”

“Saya tetangga depan rumahnya Pak Surip.”

“Itu rumahnya Bu Sinta. Ibu ini siapanya Bu Sinta?”

“Saya putrinya.”

“Kakaknya Ningrum?”

Hanum mengangguk.

“Kalau Ibu tadi bilang kakaknya Ningrum, saya langsung tahu. Ningrum itu teman baiknya keponakan saya, Ravika. Ningrum selalu membantu Ravika. Maklum, Ravika dan adik-adiknya sudah yatim piatu sejak mereka masih kecil.”

Hanum melihat sebuah rumah di kejauhan. Seorang perempuan keluar dari rumah itu, berjalan ke arah mereka.

“Ada pengunjung, ya?” tanya perempuan itu.

“Iya. Kakaknya Ningrum.”

“Benarkah?”

Perempuan itu melihat ke dalam, tersenyum pada Hanum.

“Hanya ingin melihat-lihat, Bu,” ujar Hanum seraya membalas senyum perempuan itu.

“Aku mau ke warung dulu, Pak!” pamit perempuan itu.

Si bapak hanya mengangguk. Sementara, Hanum lanjut mengamati koleksi buku-buku di perpustakaan. Ia sebenarnya agak heran ada perpustakaan di kampung ini. Orang-orang kampung di daerah ini yang ia kenal tidak gemar membaca.

“Perpustakaan ini didirikan atas inisiatif warga ya, Pak?” tanya Hanum.

“Iya. Perpustakaan ini didirikan beberapa orang pemuda kemudian didukung sebuah yayasan yang membantu renovasi mushola ini.”

“Pemuda-pemuda di kampung ini berpikiran maju juga, ya?”

“Ah, hanya segelintir kok. Ada lima orang. Salah satunya, Ahmad. Keponakan saya ini agak beda dengan pemuda kebanyakan di kampung ini. Sejak isu panas kakaknya menjadi bahan pergunjingan warga, ia semakin menjauhkan diri dari masyarakat.”

Hanum tertegun mendengar penuturan bapak itu, tapi ia diam.

“Maaf, saya terlalu terus terang soal ini. Masalahnya, sudah telanjur jadi bahan pergunjingan sekampung. Kalau Ibu ini kakaknya Ningrum, pasti tahu isu panas tentang Ravika dan Pak Anjas.”

“Saya pernah dengar sih. Tapi, saya tidak kenal Ravika. Yang penting, Ahmad baik-baik saja sekarang.”

“Iya. Untungnya, ia bertemu dengan teman-teman yang baik, yang mengenalkannya pada buku-buku. Sesudahnya, ia menjadi bersemangat kembali.”

Lihat selengkapnya