14
Hari Kesembilan: Liburan telah Usai
Pukul delapan malam, Hanum masih duduk di depan televisi. Matanya sesekali menatap layar, sesekali beralih pada tumpukan barang yang sedang ia rapikan. Suasana rumah terasa tenang, hanya suara televisi yang mengisi keheningan. Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu depan. Hanum terdiam sejenak, napasnya tertahan. “Tamu lagi,” gumamnya dengan nada jenuh. Ada rasa enggan yang terselip, seolah ia sudah lelah menerima tamu di saat ia ingin segera selesai mengemas barang-barang yang akan ia bawa pulang ke Jakarta.
“Selamat malam, Mbak! Maaf mengganggu?”
“Radit. Ada perlu apa? Masuk dulu, yuk!”
“Di sini saja, Mbak.”
Radit kemudian duduk di kursi teras. Hanum duduk di kursi dekat pintu.
“Tadi, Mas Eka menghubungi saya. Katanya, ia belum berniat untuk menjual rumah yang di kampung karena masih banyak yang harus dipertimbangkan.”
“Ehm, jadi begitu. Terus?”
“Saya bilang saya sangat berharap bisa membeli rumah ini kalau Mas Eka sudah memutuskan untuk menjualnya. Mas Eka bilang lagi, ia harus bicara dulu dengan Mbak Hanum.”
“Mungkin Mas Eka menunggu saya pulang dulu ke Jakarta, Dit.”
“Kalau Mbak Hanum sendiri, berniat untuk menjualnya atau ada rencana lain?”
“Aku sih mengikuti apa kata Mas Eka saja. Ya masalahnya, urusan menjual rumah ‘kan memang perlu dipikirkan masak-masak.”
“Iya juga sih.”
“Kalau boleh tahu, kenapa Radit ingin sekali membeli rumah ini? Setahu saya, Radit anak tunggal.”
“Saya memang anak tunggal dan masih tinggal dengan ibu saya yang sudah janda. Saya membeli rumah ini untuk aset.”