15
Hari Kesepuluh: Waktunya Pulang
Hanum sudah memesan tiket online. Kereta berangkat pukul sembilan. Sekarang pukul tujuh pagi. Ia masih punya waktu sekitar dua jam. Rencananya, ia mau ke pasar sebentar, belanja oleh-oleh di deretan kios pinggir jalan. Toko-toko di dekat pasar biasanya sudah buka pada pagi hari. Ketika keluar lewat pintu samping untuk mengecek tidak ada barangnya yang tertinggal dan sekalian memastikan ia tidak lupa menutup kran di kamar mandi dan dapur, ia berpapasan dengan Asih yang sedang membereskan sisa-sisa pot di halaman samping.
“Mau ke mana, Mbak?” tanya Asih yang mungkin tidak biasa dengan penampilan Hanum yang biasanya santai.
“Cari oleh-oleh.”
“Di kios oleh-oleh yang dekat pasar saja. Saya antar, Mbak?” Ningrum menawarkan bantuan.
“Aku jadi bikin kamu repot.”
“Mumpung libur. Saya ambil motor dulu, ya?”
Tak lama kemudian, Asih keluar membawa motornya. Hanum memakai helm yang diberikan Ningrum. Mereka kemudian menuju toko oleh-oleh dekat pasar. Seperti biasa, toko itu ramai pembeli. Setelah parkir di depan toko, mereka langsung masuk ke dalam.
“Saya dulu sering mengantar Bu Sinta belanja di sini lho, Mbak.”
“Ibu saya sering ke sini? Paling dia beli roti kering kesukaannya, yang bisa disimpan berbulan-bulan saking awetnya.”
“Bukan. Dia membeli rengginang untuk Mas Eka. Biasanya dia akan minta sekalian dibungkus kardus buat langsung dikirim ke Jakarta.”
“Iya ya. Mas Eka ‘kan suka rengginang. Aku akan belikan rengginang buat Mas Eka, tapi sedikit saja. Repot bawanya.”
Hanum mengambil dua plastik rengginang kemasan tanggung, kemudian membeli oleh-oleh lainnya untuk orang rumah. Dia meminta tolong pada pelayan toko untuk dimasukkan kardus agar mudah membawanya. Sambil menunggu, ia memilih kue dan camilan basah. Ia minta agar dimasukkan ke dalam plastik sendiri-sendiri, untuk ia makan sendiri dan untuk Asih.
“Segini saja, Sih.”
“Sudah selesai, Mbak?”
“Sudah. Ini buat kamu.”
Asih menerima plastik berisi kue dan camilan dari tangan Hanum.
“Terima kasih, Mbak.”
“Kita makan dulu, yuk! Aku belum sarapan.”
“Ke mana?”
“Warung soto apa bakso di sekitar sini saja.”