Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #16

Hari Kesepuluh: Terbongkarnya Sebuah Rahasia

16

Hari Kesepuluh: Terbongkarnya Sebuah Rahasia

 

 

Hanum tiba di Jakarta pada sore menjelang petang. Tanpa ragu, ia segera memesan taksi menuju rumah. Jarak dari stasiun ke rumahnya tidaklah jauh, dan ia sudah terbiasa pulang tanpa harus dijemput, apalagi kali ini hanya membawa sedikit barang. Namun, ada sesuatu yang entah kenapa mengganggunya. Ia lupa tapi merasa itu sangat penting. Ah, sudahlah! gumamnya.

Begitu langkahnya menjejak halaman rumah, kehangatan langsung menyambutnya. Haris bersama anak-anak menyongsong kedatangannya dengan senyum dan pelukan, membuat rasa lelah perjalanan seketika luruh. Malam itu, rumah mereka kembali penuh keceriaan.

“Mama perginya lama banget,” ujar Niar yang langsung memeluknya.

“Baik-baik di rumah ‘kan?” Hanum balik bertanya.

“Baik dong.”

“Anak Mama pintar.”

“Maaf, tidak menjemputmu di stasiun,” ujar Haris yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu.

“Tidak usah basa-basi! Orang biasanya juga sendiri kok.”

“Ya aku tahu. Kamu ‘kan perempuan mandiri. Eh, ada Mas Eka tuh.”

“Mas Eka di sini?”

“Di teras samping. Dia sudah menunggumu sejak tadi.”

“Tumben Mas Eka sengaja menungguku.”

“Tanya saja sendiri.”

Hanum meletakkan barang-barangnya di ruang tamu, lalu bergegas menemui Eka di teras samping. Ia duduk sambil mengerjakan sesuatu di depan laptop. Ia mungkin memang sengaja menunggunya.

“Mas Eka menungguku, ya?”

Eka hanya menoleh sesaat, lalu kembali menatap layar laptop.

“Aku sudah di sini sejak siang tadi, mengobrol sama suamimu. Kamu tadi naik kereta pagi?”

“Iya.”

“Kabar di kampung baik-baik saja ‘kan?”

“Baik sih baik. Tapi, ada banyak hal yang terjadi.”

“Memangnya apa yang terjadi?”

“Maksudku, ada banyak hal yang menurutku kebetulan yang kutemui selama di kampung setelah Mas Eka pulang.”

Eka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu saja. Banyak kebetulan yang pasti terjadi.”

“Terus, Mas Eka sudah bicara dengan Radit?”

“Dia memang beberapa kali menghubungiku, tapi pembicaraan kami biasa saja. Maksudku, aku bilang padanya kalau aku belum bersepakat denganmu soal rencana menjual rumah itu.”

“Mas Eka bilang kalau aku keberatan menjual rumah itu padanya?” tanya Hanum agak cemas.

“Aku tidak mengatakan apa pun soal alasanmu menolak rumah itu dibeli oleh Radit.”

“Tapi, Radit pernah datang ke rumah dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukan oleh ibunya dulu pada Ningrum.”

“Terus bagaimana kamu menanggapinya?”

“Ya, aku maafkan saja.”

“Kamu tidak bertanya tentang alasan ia meminta maaf?”

“Ya, dia bilang hanya ingin meminta maaf saja.”

“Hemm, begitu ya? Apa mungkin ia tahu kamu tidak setuju dengan rencana penjualan rumah kita kepadanya?”

“Entahlah. Aku sempat berpikir kalau aku bertanya, Radit mungkin akan curiga kalau alasan kita menolaknya karena masalah yang disebabkan oleh ibunya.”

“Kamu ini cerdik sekali.”

“Aku hanya jaga-jaga. Lagi pula, entah Mas Eka bilang atau tidak alasannya pada Radit, aku tidak seharusnya ceroboh dengan terlalu berterus terang. Untungnya lagi, aku masih bisa menahan emosi.”

“Terkadang kamu memang di luar dugaan.”

“Ah, Mas Eka bisa saja.”

Eka menutup laptopnya yang layarnya sudah lama mati. Pandangannya tertuju ke arah taman yang tampak terang dengan lampu dekoratifnya yang warna-warni.

Lihat selengkapnya