17
Alasan yang Logis
Sore itu, Eka menyempatkan diri mampir ke rumah Hanum sepulang dari kantor. Ia langsung menuju teras samping, tempat ia biasa duduk terpekur, menatap taman atau jalan di depan rumah yang lengang. Di dalam, Haris bersama anak-anak tengah bercengkerama di ruang tengah, sementara Hanum sibuk menyiapkan suguhan untuk Eka.
Tak lama, ia keluar membawa secangkir teh panas bersama setoples rengginang. Senyum tipis menghiasi wajah Hanum saat ia meletakkan hidangan itu di meja kecil di teras. Kemarin, ia lupa memberikan rengginang yang dibawanya khusus untuk Eka dari kampung. Ia membuka satu bungkus untuk disantap bersama, sementara satu bungkus lainnya ia masukkan ke dalam tas plastik agar bisa dibawa Eka pulang.
“Wah, ini makanan kesukaanku. Kamu kok baik sekali!”
Wajah Eka berbinar melihat rengginang yang tampak renyah menggoda.
“Kebetulan ingat saja.”
“Terima kasih, ya?”
Eka mengambil satu keping rengginang dari dalam toples lalu menggigitnya.
“Haris belum pulang?”
“Sudah. Dia bersama anak-anak di dalam.”
Eka kini tampak jauh lebih santai, tak lagi kaku seperti saat pertama kali datang. Tubuhnya bersandar ringan di kursi teras, jemarinya sesekali menggenggam cangkir teh panas. Rengginang yang disuguhkan Hanum ia nikmati perlahan, bunyi renyahnya seolah mencairkan suasana.
Tatapannya mulai lebih tenang, senyumnya sesekali muncul, menandakan beban pikirannya sedikit terangkat. Namun, di balik ketenangan itu, ia akhirnya membuka suara. Nada bicaranya berubah, lebih dalam, seakan hendak menyingkap sesuatu yang serius. Hanum menoleh penuh perhatian, menyadari bahwa percakapan sore itu akan membawa mereka pada hal yang lebih penting daripada sekadar suguhan kopi dan rengginang.
“Kemarin, Pak Surip menghubungiku. Katanya, ada orang yang hendak menyatroni rumah kita,” Eka bicara dengan nada serius.
“Maksudnya, ada pencuri yang mengincar rumah kita di kampung?”
“Benar.”
“Apa mereka berhasil masuk dan mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah?”
“Mereka keburu ketahuan beberapa orang warga yang kebetulan lewat di depan rumah kita.”
“Berarti aksi mereka berhasil digagalkan.”
“Cerita serunya bukan di situ. Pak Surip bilang ia pernah memergoki dua laki-laki pencuri itu yang katanya pernah mengancam Ningrum di tengah jalan.”
“Mengancam apa? Memaksa Ningrum menyerahkan uangnya?”
“Waktu Pak Surip menanyakan pada Ningrum apa mereka menginginkan uang, Ningrum bilang tidak. Tapi, rekaman video yang Ningrum sendiri bingung rekaman video apa yang dimaksud.”
Hanum terdiam, pikirannya mulai dipenuhi bermacam dugaan.
“Mas Eka bilang pada Pak Surip soal video Ravika?”
Eka menggeleng.
“Habis itu, Pak Surip cerita sesuatu?”
“Cerita soal apa, Num?”
“Ya, ia mungkin tahu hubungan antara Ningrum dan Ravika lebih jauh.”
“Katanya sih ia akan tanyakan soal itu pada Asih. Tapi, Asih sedang bekerja di pabrik waktu Pak Surip menghubungiku.”
Hanum kembali terdiam, memikirkan sebuah kemungkinan.
“Jangan-jangan mereka ingin mencari video itu di rumah kita,” ujar Hanum.
“Bisa jadi.”
“Sayangnya, mereka tak akan pernah menemukannya. Ini sungguh lucu,” ujar Hanum tak tahan untuk tertawa lepas.
“Apanya sih yang lucu?”
“Dua orang pencuri itu pasti suruhan Pak Anjas yang terobsesi untuk mendapatkan video yang menjadi taruhan hidupnya. Pak Anjas pasti khawatir video itu tersebar dan mempermalukan dirinya. Jika dia tidak pernah berhasil menemukan video itu, ia akan selamanya dihantui kemungkinan buruk itu.”
“Jadi, itu lucu?” Eka berkata dengan nada datar.