Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #18

Setelah Semuanya Jelas

18

Setelah Semuanya Jelas

 

 

Sabtu sore, Eka datang menemui Hanum di rumah. Ia datang seorang diri, tanpa Widhi maupun anak-anak. Wajahnya tampak serius, membuat Hanum diliputi cemas. Jangan-jangan kali ini Eka membawa kabar buruk. Untuk menenangkan suasana, Hanum menyuguhkan kopi pahit kesukaan Eka. Setelah itu, mereka pun mulai berbincang di ruang tamu.

“Kamu sendirian di rumah?” tanya Eka membuka percakapan.

“Mas Haris dan anak-anak pergi ke toko buku. Amri ingin mencari buku tentang pesawat terbang.”

Eka menghela napas, lalu tatapan matanya terpaku ke arah pemandangan di luar jendela.

“Ada perkembangan soal video Ravika?” tanya Hanum memecah keheningan.

Eka menggeleng.

“Tidak ada?” tanya Hanum lagi.

“Aku dapat kabar dari Pak Surip kalau Pak Anjas ditangkap polisi.”

“Kasus video syur itu terungkap?”

Eka menggeleng lagi.

“Bukan soal itu.”

“Lalu?”

“Kasus korupsi.”

“Oh, ternyata kasus korupsi.”

“Terus Budhe Hartini juga menghubungiku.”

“Budhe Hartini?”

“Iya. Budhe Hartini mendengar dari temannya kalau Pak Anjas sering menyuruh orang suruhannya untuk menemui Ningrum.”

“Orang suruhan Pak Anjas itu berarti dua orang laki-laki yang hendak menyatroni rumah kita?”

“Benar. Gara-gara ketahuan menyatroni rumah kita, mereka lantas jadi sorotan orang-orang sekampung. Terus, beberapa orang mengenali mereka sering mendatangi Ningrum, mencegatnya di tengah jalan, atau menghadang Ningrum bila ia keluar rumah.”

“Orang-orang tahu apa tujuan mereka melakukan itu pada Ningrum?”

“Orang-orang itu tidak mengaku ketika ditanya soal itu. Tapi, Pak Surip bilang mereka mengintimidasi Ningrum karena mencari rekaman video itu.”

“Artinya, orang-orang suruhan Pak Anjas itu mengintimidasi Ningrum agar Ningrum menyerahkan rekaman video yang dititipkan Ravika padanya. Tapi, Ningrum tidak tahu soal video itu karena ia tidak membuka paketnya. Setelah itu, Pak Anjas menyuruh mereka menyatroni rumah kita pasti juga untuk mencari rekaman video itu karena Radit belum berhasil membelinya dari kita.”

“Kukira analisismu benar.”

“Aku sekarang mengerti. Alasan Bu Zariyah menyebarkan cerita yang menyudutkan Ningrum tentu ada kaitannya dengan rekaman video yang ada di tangan Ningrum. Kalau dipikir, kelakuan Bu Zariyah itu bukan apa-apa.”

“Maksudmu?”

“Aku yakin intimidasi yang dilakukan terhadap Ningrumlah yang membuat Ningrum menjadi tidak tahan dan ingin mengakhiri hidup.”

“Mereka pasti melakukan kekerasan.”

“Kukira pasti begitu, Mas?”

Keduanya lantas terdiam. Hanum sendiri masih sedih membayangkan hari-hari yang dipenuhi ketakutan yang dilalui Ningrum. Tak adil rasanya jika Ningrum harus menanggung akibat dari perilaku kurang ajar Pak Anjas. Sekarang, video yang dicari Pak Anjas ada di tangan mereka. Tapi, mereka tak akan pernah bisa memperkarakan kasus itu. Jika video itu mereka laporkan ke polisi, mereka justru bisa mendapat ancaman dari pihak keluarga Pak Anjas yang tidak terima aibnya dibongkar. Keputusan mereka untuk memusnahkan video itu dan membiarkan Pak Anjas tak bisa lepas dari rasa penasarannya jauh lebih aman.

Lihat selengkapnya