Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #19

Akhirnya Berakhir

19

Akhirnya Berakhir

 


Kabar dari Eka tentang tertangkapnya Pak Anjas yang diduga telah menggelapkan dana pembangunan gedung sekolah mengejutkan Hanum. Sesudahnya, ia yakin Radit pasti sudah tidak berminat untuk melanjutkan rencana membeli rumah mereka di kampung. Motif utama Radit membeli rumah itu tampaknya untuk mencari rekaman video yang ia kira sengaja disembunyikan Ningrum. Untuk sementara, keluarganya tentu fokus mengurus masalah yang sedang dihadapi Pak Anjas.   

Dugaan Hanum benar. Sore itu, Eka mampir ke rumahnya mengantarkan titipan Widhi, sekalian mengabari Hanum kalau Radit telah membatalkan niatnya membeli rumah mereka di kampung. Hanum bisa melihat kelegaan di wajah Eka. Mereka berdua tak menyangka masalahnya akan berakhir tanpa harus susah payah melalui pembicaraan panjang yang menguras kesabaran.

“Itu kejutan yang menyenangkan, bukan?” Hanum berkata pada Eka.

Eka mengangguk mengiyakan.

“Aku juga sudah menghubungi Pak Surip. Katanya, ia akan bilang pada Pak Sidik.”

“Pak Sidik jadi membeli rumah kita?”

“Iya.”

“Sabtu besok itu hari libur. Bagaimana kalau kita mengajak anak-anak?”

“Ide bagus.”

“Aku sudah bicara dengan Mbak Widhi.”

“Aku yakin kalian pasti sudah merencanakannya sejak lama.”

“Kita hanya belum memutuskan naik kereta atau sewa mobil.”

“Naik kereta saja.”

“Ya sudah. Kita berangkat sama-sama ‘kan?”

“Iya jelas.”

“Anak-anak pasti senang.”

Hati Hanum berbunga-bunga. Ia tidak menyangka ada keajaiban yang tak terduga. Tapi, bukan keajaiban sih. Ia sebenarnya sudah memperkirakan Radit pasti akan membatalkan rencananya membeli rumah. Jawaban menggantung Eka untuk menunda rencana penjualan rumah hingga waktu tak terbatas setidaknya memberi Radit celah untuk membatalkan keinginannya membeli rumah mereka dengan mudah.

 

---

 

Eka tampak bersemangat menghadiri resepsi pernikahan Asih dan Danar. Semua kegalauannya ternyata tak pernah menjadi kenyataan, sehingga langkahnya terasa ringan. Mereka pun sepakat berangkat bersama naik kereta, sekalian mengajak anak-anak menikmati libur akhir pekan di kampung.

Perjalanan berlangsung menyenangkan, penuh canda dan obrolan ringan tanpa beban. Menjelang dini hari, mereka tiba di kampung dengan hati lega. Untungnya, anak-anak sudah tidur sepanjang perjalanan, sehingga mereka lebih tenang.

Sabtu pagi, mereka sudah bersiap menghadiri resepsi. Rumah Pak Surip tampak ramai dipenuhi orang-orang yang sibuk membantu mempersiapkan pernikahan Asih dan Danar. Meski begitu, acara utama akan berlangsung di gedung serbaguna dekat lapangan, tak jauh dari rumah.

Jaraknya cukup dekat, sehingga mereka bisa berjalan kaki ke sana. Tetangga kanan kiri pun berbondong-bondong menuju gedung dengan cara yang sama. Jalan di depan rumah pagi itu riuh oleh langkah dan obrolan warga yang penuh semangat. Eka sendiri sudah berangkat lebih dulu.

“Tamu yang datang banyak juga, ya?” ujar Widhi ketika mereka hampir sampai di gedung tempat acara.

“Acara nikahan di kampung masih seramai dulu ya, Mbak?”

“Tapi, masih kalah ramai kalau dibandingkan kampungku yang pelosok. Acara di sini masih tergolong sederhana.”

“Iya, aku ingat waktu acara pernikahan Mbak Widhi sama Mas Eka. Tamunya itu lho, belum orang yang membantu di dapur. Waktu aku baru datang, aku sempat mengira ada pasar kaget.”

“Kita biasa masak sendiri sehingga seluruh warga kampung ikut terlibat. Eh lihat!”

Hanum menoleh ke arah yang ditunjuk Widhi.

“Itu Budhe Hartini dan Pakdhe Jaya ‘kan?”

“Iya. Ayo kita ke sana!”

Mereka bergegas menemui Budhe Hartini dan Pakdhe Jaya yang duduk di barisan depan.

“Eh, Num! Ini Widhi, Haris, terus sama anak-anak. Komplet,” sambut Budhe Hartini kegirangan.

“Eka mana?” tanya Pakdhe Jaya.

“Tidak tahu. Tadi, Mas Eka lebih dulu ke sini,” jawab Hanum.

“Aku belum lihat Eka,” ujar Budhe Hartini.

“Itu Eka!”

Haris menunjuk ke seseorang yang duduk di samping Pak Surip.

“Biar saja!” ujar Widhi.

Lihat selengkapnya