Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #20

Epilog

20

Epilog

 

 

Pulang ke kampung sehari saja sudah menyumbang baju kotor yang lumayan banyak. Seharian ini, Hanum sibuk mencuci dan menjemurnya di halaman belakang. Di tengah kesibukannya, Hanum mencium aroma kopi yang menggugah selera. Haris tampaknya sedang membuat kopi di dapur. Ia berhenti sejenak. Ini bukan karena aroma kopi itu, gumamnya.

Sepulang dari kampung, Hanum entah mengapa merasakan kelegaan yang membuat pikirannya lebih jernih. Sesuatu yang menurutnya terputus dari dirinya itu telah kembali, perasaan menjadi utuh. Ini mungkin karena ia telah menyelesaikan urusan masa lalu Ningrum untuk mengungkap masalah yang hampir saja tak tersentuh dan tenggelam oleh waktu.

Ningrum memang tak mungkin mengungkapkannya secara langsung, tapi firasat itu yang memunculkan keinginan dalam dirinya untuk pulang ke rumah masa kecil mereka. Ia sudah menunaikan tugasnya, menelusuri apa yang menyebabkan Ningrum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya secara tragis. Keputusasaan Ningrum telah terjawab.

Eka tentunya juga merasakan kelegaan yang sama, tapi tidak berhubungan dengan masalah Ningrum. Ia pasti lega karena beban soal penjualan rumah itu telah menemukan jawabannya. Selama di kampung, Hanum melihat Eka terlihat sangat bersemangat hadir di acara resepsi pernikahan Asih dan Danar. Setahu Hanum, Radit dan Bu Zariyah tidak ada di ruangan tempat acara dilangsungkan. Pak Surip mungkin memang tidak mengundang mereka.

“Kamu kok masih suka melamun? Bukankah semua urusan di kampung sudah selesai?”

Hanum tersenyum ke arah Haris.

“Sudah belum?”

“Sudah sih. Tinggal urusan penjualan rumah. Mas Eka yang mengurus semuanya.”

Haris mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Haris tak jauh beda dengan Widhi, yang tak tahu-menahu urusan di kampung. Tapi, itu tak mengapa. Persoalan di kampung bukan bagian dari masalah mereka. Mereka tak akan pernah mengerti arti pulang ke masa lalu, dan mendapati ada yang telah terabaikan selama ini. Hanum tak mungkin mengungkapkan hal itu pada mereka. Itu akan menjadi rahasianya untuk selamanya, sebuah rahasia tidak menyenangkan yang telah berubah menjadi kekuatan yang meneguhkan hatinya setelah diselami lebih jauh.

         

---

          

Widhi mampir ke rumah tapi hanya di depan pintu. Hanum mengajaknya masuk ke dalam sebentar, tapi ia menolak. Ia lalu memberikan bungkusan di dalam tas plastik besar.

“Ini bajunya ya, Num. Terima kasih lho.”

“Iya sama-sama.”

“Aku langsung saja, ya? Aku ada janji mau mengantar anak ke dokter gigi.”

“Iya, tidak apa-apa.”

Hanum melambaikan tangan ke arah Widhi yang segera berlalu dari pandangan.

“Tadi siapa yang datang?” tanya Haris yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakangnya.

Lihat selengkapnya