Tak perlu menjadi dokter mata untuk bisa mendiagnosa seseorang yang mengalami gangguan rabun dekat. Cukup dengan mengamatinya saja aku sudah tahu bahwa pengelihatan mama bermasalah. Saat aku berumur 6 tahun, aku jatuh dari sepeda dan menangis. Tapi alih-alih mama menghampiriku dan memelukku, dia justru terburu-buru masuk ke mobil sambil berbicara di telpon dengan seseorang yang dia panggil "Bos".
Di detik sebelum dia menutup mobil pun dia tahu bahwa aku sedang menangis, tapi dia justru memanggil bibi untuk membantuku.
Lalu saat aku berusia 11 tahun, aku menunggu ibu di depan rumah untuk menunjukkan piagam penghargaan yang diperoleh dari kejuaraan taekwondo. Ia mengetahui keberadaanku saat pertama kali turun dari mobil dan aku pun mencium tangannya. Tapi ketika melihat kakak perempuanku membuka pintu untuknya, dia meninggalkanku begitu saja tanpa menunggu sesuatu yang ingin aku tunjukkan padanya.
Tak hanya itu, hal yang membuatku semakin yakin bahwa Mama mengalami gangguan rabun dekat adalah setiap kali kami berada di meja makan untuk makan malam. Aku selalu mengambil tempat duduk di sebelahnya. Namun yang ia ajak berbicara dan selalu ia dengarkan adalah kakakku yang berada di seberangnya. Bukankah aku lebih dekat darinya, tapi ia tidak memberiku perhatian sebanyak ia memberi kakakku perhatian.
Saat ulang tahun mama yang ke-35 tahun, aku pernah menghadiahkan kacamata untuknya. Ia mengucapkan terimakasih padaku sambil mengernyit. Namun tidak bertanya apapun. Jadi aku yakin mama mengerti maksud hatiku. Tapi tampaknya rabun dekatnya terlalu parah hingga tidak begitu berpengaruh. Mama masih dengan kebiasaannya yang hanya bisa melihat sesuatu yang jauh dibandingkan dengan sesuatu yang dekat darinya.
"Mamamu tidak rabun, matanya masih normal. Dia tidak perlu kacamata apapun untuk membantunya melihat." Kata bukde Arum ketika aku menceritakan padanya tentang hadia kacamata untuk mama. Sambil terus mengelap bokong nenek yang keriput.
Sudah lima tahun lebih, nenekku dari pihak ayah mengalami stroke hingga menyebabkan separuh tubuhnya lumpuh. Dan selama itu bukde Arum merawatnya. Perempuan berambut cepak yang kupanggil bukde adalah kakak perempuan ayah. Dia masih lajang hingga umur 39 tahun. Saat kutanya kenapa dia tidak kunjung menikah padahal ayah bahkan sudah memiliki dua anak?
Bukde hanya menjawab, "Kalau bukde menikah, siapa yang merawat nenekmu ini? Apa ayahmu yang anak kesayangannya itu mau merawat ibunya?"
Dari sanalah aku mengerti bahwa dalam setiap keluarga ternyata ada yang namanya anak kesayangan. Dan sepertinya anak kesayangan mama bukanlah aku, melainkan Lanita.
Setiap pulang sekolah, keadaan rumahku selalu sepi dan sunyi. Mama dan papa masih bekerja. Lanita baru pulang ke rumah menjelang sore. Itupun tepat sebelum mama atau papa pulang. Lalu aku, jika tidak ada les atau kegiatan sekolah, aku lebih memilih ke rumah bukde Arum yang jaraknya lebih dekat dengan sekolahku.
"Bukde.. sebenarnya aku ini anak kandung bukan sih?" Tanyaku pada bukde yang sudah selesai mengelap bokong nenek dan kini sedang memakaikan popok.
Bukde Arum menoleh padaku tapi bukannya menjawab, dia justru memberikan kantong kresek berisi pup nenek padaku. "Tolong buang!"