Rumah yang menolak untuk pulang

Sylvia Yenny
Chapter #1

Prolog

Ketika mama dan papa meninggal, aku tidak menangis. Tidak ada air mata yang harus kutahan. Tidak alasan yang membuatku harus bersedih karena kepergian mereka. Aku hanya diam di sisi dua peti kayu itu, memandangi bingkai foto mereka yang tampak tersenyum bahagia.

Orang-orang memelukku dan mengucapkan belasungkawa. Aku tetap diam. Ada kerabat jauh yang tiba-tiba datang sambil menangis, hatiku tetap tidak tergerak. Lalu seseorang yang sok tahu berusaha memberiku kata-kata motivasi dan penguat yang padahal aku sendiri tidak membutuhkannya.

"Mungkin dia masih shock karena kedua orangtuanya meninggalkan tiba-tiba. Siapa yang tahu kecelakaan itu bakal terjadi." Bisik-bisik mereka.

Sejujurnya yang harusnya mereka kasihani bukanlah aku, tapi Lanita. Selama hidupnya dia begitu dekat dan akrab dengan mama dan papa, pasti begitu sulit kehidupannya setelah ini.

"Piluh sekali melihat mereka. Anak yang satu tampak shock dan yang satunya lagi nyaris pingsan karena terus menangis."

Jika ini adalah sinetron, inilah dramanya. Ketika peti mama dan papa datang ke rumah duka, Lanita langsung meraung-raung. Antara tak rela atau hendak mencakar peti kayu itu dengan kukunya. Lalu bukdeku dari pihak ayah mencoba menenangkannya. Tapi dari sisi yang lain nenek dan kakekku dari pihak ibu berdebat tentang prosesi pemakaman mereka yang kurang layak.

Lihat selengkapnya