Gerbang besi tempa The Gilded Aviary punya suara derit yang khas—gesekan logam tua berkarat, biasa terdengar tiap kali angin musim gugur bertiup kencang dari hutan Oakhaven. Malam itu, lima belas November, derit itu tenggelam oleh badai. Hujan menghantam kaca jendela berbingkai timah begitu keras hingga terdengar seperti seseorang mencoba mendobrak masuk—mencari jalan ke rahasia yang disembunyikan rapat-rapat di dalam rumah besar keluarga Montgomery.
Di ruang tengah, api di perapian batu tidak berhasil mengusir dingin yang entah datang dari mana. Ruangan itu mewah, tapi mewahnya jenis yang menekan—karpet Persia yang meredam setiap langkah kaki, rak buku mahoni yang menjulang sampai langit-langit berukir, lampu gantung kristal yang sengaja hanya dinyalakan separuh. Cahayanya remang, melempar bayangan panjang ke dinding batu.
Eleanor Montgomery berdiri menghadap jendela besar itu, nyaris tak bergerak. Gaun wol abu-abu gelapnya terpasang sempurna, tanpa satu lipatan pun yang salah. Begitulah caranya bertahan lima belas tahun terakhir: kontrol total, tanpa celah, sebuah topeng yang tidak pernah ia lepas di depan siapa pun.
Di tangan kanannya ada cangkir porselen berisi teh chamomile yang sudah dingin sejak sejam lalu. Ia tidak meminumnya, tidak juga meletakkannya kembali. Kalau diperhatikan dari dekat, buku-buku jari Eleanor tampak memutih—ia mencengkeram gagang cangkir itu seolah benda rapuh itu satu-satunya hal yang menahannya tetap waras.
Di sudut ruangan, setengah tersembunyi di balik bayangan rak buku, Alaric Montgomery duduk di kursi kulit besarnya. Ia tidak menatap jendela. Perhatiannya ada pada gelas berisi Scotch dua belas tahun di tangan kirinya. Denting es batu yang beradu dengan dinding gelas jadi satu-satunya suara yang memecah ketegangan di antara mereka berdua.
"Kau akan meremukkan cangkir itu kalau terus memegangnya seperti itu, Eleanor," kata Alaric, memecah keheningan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi—seolah sedang membahas ramalan cuaca, bukan malam kepulangan anak yang "hilang" itu.
Eleanor tidak menoleh. Matanya menembus hujan dan gelap di luar sana. "Mereka seharusnya sudah tiba delapan belas menit lalu. Apa agen keamanan bodoh yang kau sewa itu benar-benar tahu jalan pintas lewat perbukitan yang rawan longsor?"
"Hujan lebat, Eleanor. Jalanan berlumpur dan licin. Lagipula, 'paket' yang mereka bawa perlu pengawasan ketat," Alaric menyesap minumannya, membiarkan cairan itu membakar tenggorokan. Ia menatap api di perapian. "Aku masih pikir ini kesalahan besar. Membawa orang asing—pesakitan gila—masuk ke rumah ini sama saja dengan menaruh ular berbisa di ranjang kita sendiri."
"Dia bukan ular!" Eleanor berbalik. Wajahnya yang biasa dingin kini menegang, matanya yang biru pudar menyala. Teh di cangkirnya berkocak, beberapa tetes tumpah ke karpet Persia. "Dia Rian. Anak kita. Anak yang kau biarkan hilang lima belas tahun lalu karena kau sibuk rapat dewan direksi. Malam ini putraku pulang. Kalau kau berani merusak ini, Alaric, aku bersumpah aku akan membakar semua yang kau punya sampai jadi abu."
Alaric terdiam, membalas tatapan istrinya beberapa detik sebelum mengalah lewat embusan napas berat. Pria yang mengendalikan ribuan pekerja dan kerajaan properti bernilai miliaran dolar itu tahu kapan sebaiknya tidak melawan delusi istrinya. Lagipula kepulangan sang putra bungsu ini terlalu sempurna sebagai bahan humas—skandal pajak yang mengancam perusahaannya akan tenggelam oleh berita keajaiban kembalinya pewaris Montgomery.
"Tentu saja. Dia Rian kesayanganmu," gumam Alaric sinis, memutar-mutar gelasnya lagi.