Bunyi kunci pintu utama yang diputar Maria masih bergema ketika keheningan mencekik turun menyelimuti foyer The Gilded Aviary. Badai di luar masih mengamuk, tapi dinding batu pualam yang tebal ini terlalu kokoh untuk ditembus. Satu-satunya badai yang diizinkan hidup di dalam sini adalah badai buatan keluarga Montgomery sendiri.
Eleanor belum melepaskan cengkeramannya pada lengan Julian. Jari-jarinya yang kurus, dihiasi cincin berlian berpotongan zamrud, terasa sedingin es—menembus kain jaket basah yang dikenakan pemuda itu.
"Mari, Sayang. Ibu akan mengantarmu ke kamarmu. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang ini," bisik Eleanor. Suaranya mendayu-dayu, seperti nyanyian pengantar tidur yang salah tempat di tengah rumah yang mencekam ini.
Julian mengangguk pelan, menundukkan kepala dalam postur ketakutan—gestur yang sudah ia latih berbulan-bulan di depan cermin wastafel retak St. Jude. Ia membiarkan Eleanor menuntunnya menaiki tangga pualam yang melingkar menuju lantai dua.
Di setiap anak tangga, Julian merasakan tatapan dari lukisan-lukisan leluhur Montgomery yang berjejer di dinding. Mata-mata mati berbingkai emas itu seolah tahu bahwa darah di nadinya bukan darah biru Oakhaven, melainkan darah panti asuhan.
Di ujung koridor lantai dua, Vesper dan Cassian yang tadi mengawasi dari atas sudah menghilang, seperti ditelan gelapnya lorong rumah ini. Eleanor menuntun Julian menyusuri sayap timur, melewati deretan pintu mahoni yang tertutup rapat, sampai mereka tiba di sebuah pintu ganda di ujung koridor yang paling sunyi.
Eleanor memutar kenop kuningan berbentuk kepala singa itu dan mendorong pintu hingga terbuka lebar.
"Selamat datang kembali di kamarmu, Rian," ucap Eleanor seraya menyalakan sakelar lampu di dinding.
Julian melangkah masuk, dan napasnya tercekat. Kali ini bukan akting—perutnya melilit bukan karena kemegahan ruangan, tapi karena kengerian yang terpampang jelas di depan matanya.
Kamar itu luas, berperabot kayu jati gelap dan tirai beludru biru tua yang menjuntai sampai karpet. Tapi yang membuat bulu kuduk Julian meremang bukan kemewahannya—melainkan isinya. Ruangan ini kuil pemujaan bagi anak laki-laki tujuh tahun yang sudah mati lima belas tahun lalu, dipaksa disesuaikan jadi kamar untuk pemuda dewasa.
Di atas ranjang king modern, terhampar selimut sutra perak yang mahal—tapi di sudut bantalnya duduk boneka beruang usang, jahitannya mulai terlepas, satu kancing matanya hilang. Di sudut lain, meja belajar berbahan kaca menampilkan buku-buku tebal tentang manajemen bisnis dan hukum korporat, berjejer rapi di sebelah mainan mobil-mobilan kayu dan robot plastik yang warnanya sudah pudar.
Ini bukan kamar untuk orang hidup. Ini museum waktu yang dibekukan paksa—tempat seorang anak kecil dipaksa tumbuh jadi pemuda dua puluh dua tahun, di dalam sangkar imajinasi seorang ibu yang sudah lama kehilangan kewarasannya.
"Ibu menyiapkan semuanya persis seperti yang selalu kau ingat, tapi tentu saja dengan sedikit penyesuaian untuk usiamu sekarang," Eleanor berjalan ke arah lemari pakaian raksasa dan membuka pintunya lebar-lebar.
Deretan kemeja sutra, sweter kasmir, dan setelan jas desainer tergantung rapi, diurutkan berdasarkan gradasi warna. Semuanya pas sempurna di tubuh Julian.
"Maria dan aku menghabiskan waktu berhari-hari memilihkan pakaian ini untukmu," lanjut Eleanor, membelai lengan kemeja dengan pandangan kosong. "Aku tahu seleramu mungkin berubah selama kau... berada di luar sana, bersama orang-orang jahat itu. Tapi mulai besok pagi, kau hanya akan mengenakan apa yang ada di lemari ini. Kau seorang Montgomery, Rian. Kau harus terlihat dan bertingkah seperti Montgomery."