Rumah Yang Menyimpan Duri

Chafid Firman
Chapter #3

BAB 3: Tamu yang Mengamati

Sisa amukan badai semalam masih menggantung di langit Oakhaven. Awan kelabu tebal bergerak lambat, menyaring matahari pagi jadi cahaya pucat dan dingin. Di dalam The Gilded Aviary, keheningan berkuasa penuh. Jam lantai antik dari kayu mahoni di sudut ruang tamu berdetak ritmis—seperti detak jantung buatan yang dipaksakan hidup di dada orang mati.

Julian duduk mematung di sofa beludru hijau zamrud. Pakaiannya pagi itu—sweter cashmere krem dipadukan kemeja berkerah rapi—terasa asing di kulitnya. Kain mahal itu terlalu lembut, terlalu bersih, terlalu wangi lavender. Jauh berbeda dari bau karbol, keringat asam, dan linen berjamur St. Jude yang sudah bertahun-tahun meresap ke pori-porinya.

Karena ia sudah memuntahkan pil antipsikotik semalam, pikiran Julian pagi ini terasa jernih—dan kejernihan itu justru membawa kepanikan tersendiri. Setiap indranya jadi terlalu tajam; ia bisa mendengar gesekan kain, tarikan napas, ketegangan yang menguar di udara.

Eleanor duduk merapat di sebelahnya, tangannya diletakkan anggun di atas paha Julian—dari kejauhan tampak seperti sentuhan kasih sayang seorang ibu. Tapi di balik lipatan sweter itu, jari-jarinya mencengkeram lutut Julian sampai nyaris meremukkan tulang.

"Dia akan segera tiba," gumam Eleanor, menatap lurus perapian yang apinya dibiarkan kecil. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan ular. "Ingat baik-baik, Julian. Kau Rian. Kau lelah, pikiranmu masih bingung karena trauma bertahun-tahun, dan kau hanya percaya padaku. Jangan bicara lebih dari yang seharusnya. Dr. Kenneth pria tua yang terlalu suka mencampuri urusan orang, tapi Alaric bersikeras dia menemuimu pagi ini."

Julian hanya mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa sekering debu.

Suara roda mobil melindas kerikil basah di halaman depan memecah keheningan itu. Tak lama, pintu utama dibuka oleh Maria, diikuti langkah kaki mantap yang bergema di sepanjang foyer marmer.

Dr. Arthur Kenneth melangkah masuk ke ruang tamu. Pria berusia awal enam puluhan itu berambut perak disisir rapi ke belakang, berkacamata berbingkai kawat tipis, jas wolnya sedikit basah oleh gerimis. Wajahnya perpaduan ganjil antara kehangatan seorang akademisi dan ketajaman seorang detektif. Lima belas tahun terakhir, dialah satu-satunya psikiater yang menangani 'kesedihan abadi' Eleanor Montgomery.

"Eleanor," sapa Dr. Kenneth. Suaranya ramah tapi berwibawa. Matanya yang tajam di balik lensa kacamata cepat beralih dan terkunci pada pemuda yang duduk di sebelah wanita itu.

"Arthur," Eleanor langsung berdiri, menarik lengan Julian agar ikut berdiri di sampingnya. Senyum tipis—campuran penderitaan yang indah dan kelegaan yang dibuat-buat—muncul di bibirnya. "Terima kasih sudah datang di cuaca seburuk ini. Kenalkan... ini putraku. Rian kami akhirnya kembali."

Julian memaksa dirinya menatap lurus ke mata psikiater itu. Di masa lalunya di rumah sakit jiwa, ia sudah berhadapan dengan puluhan dokter. Ia tahu persis tatapan seperti ini—tatapan yang mengukur, membedah, mencari celah kebohongan dari setiap mikro-ekspresi wajah.

"Halo, Rian," ucap Dr. Kenneth pelan, melangkah maju dan mengulurkan tangan. "Aku Dr. Kenneth. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih anak laki-laki tujuh tahun. Kau mungkin tidak mengingatku, tapi aku teman baik keluargamu."

Lihat selengkapnya