Langkah berat Alaric menuruni tangga pualam menandai berakhirnya sesi interogasi pagi itu. Ia sama sekali tidak melirik Julian atau Eleanor saat melintas—berjalan lurus dan kaku, seolah istri dan anak bungsunya hanya perabot usang. Begitu bayangannya menghilang di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, Eleanor melepaskan embusan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.
"Kau melakukannya dengan baik, Anakku," bisik Eleanor, merapikan kerah sweter kasmir Julian dengan gerakan obsesif, jemarinya yang dingin menelusuri leher pemuda itu. "Sekarang kembalilah ke kamarmu. Jangan berkeliaran di koridor. Ibu akan menyuruh Maria membawakan makan siangmu tepat pukul dua belas."
Julian mengangguk patuh, mempertahankan postur anak yang trauma. Tapi begitu Eleanor berbalik menuju sayap barat, pemberontakan kecil berkobar di dadanya. Ia tidak langsung kembali ke kamar. Lorong-lorong The Gilded Aviary terlalu luas dan penuh rahasia; rasa penasarannya untuk memetakan wilayah musuh lebih besar daripada rasa takutnya pada Eleanor.
Lantai dua bagaikan labirin berkarpet merah gelap yang menyerap suara. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan leluhur Montgomery—wajah-wajah pucat bermata kosong yang seolah mengawasi setiap gerakan Julian. Saat berjalan tanpa suara menyusuri koridor sayap timur, telinganya menangkap ketukan halus berulang: es batu beradu dengan dinding gelas kristal.
Suara itu berasal dari ruang biliar, pintu geser kayu mahoninya terbuka sedikit. Julian melangkah mendekat dan mengintip dari balik celah itu.
Di ruangan remang itu, duduk seorang pemuda berambut cokelat acak-acakan, kemeja sutranya kancing atas terbuka. Cassian Montgomery. Kakak 'kandung'-nya. Ia sedang menuangkan cairan ambar pekat ke gelas kristal, tangannya bergetar hebat hingga nyaris tumpah. Lingkaran hitam di bawah matanya bercerita tentang malam-malam panjang tanpa tidur, dihantui teror psikologis.
Julian sengaja mendorong pintu hingga berderit pelan. Cassian terlonjak kaget, botol whisky di tangannya terbentur meja hingga memercikkan cairan ke karpet. Matanya membelalak liar, dipenuhi kepanikan yang tidak masuk akal—sebelum ia mengenali sosok yang berdiri di ambang pintu.
"R-Rian..." suara Cassian bergetar, parau dan rapuh. Ia mundur selangkah, menabrak tepi meja biliar—seolah Julian hantu yang bangkit dari dasar danau untuk mencekiknya. Bagi Cassian, yang tahu persis tragedi busuk lima belas tahun lalu, itu bukan sekadar bayangan. Itu ketakutan yang menghantuinya setiap detik.
"Halo, Cassian," ucap Julian pelan, sengaja merendahkan suaranya agar terdengar rapuh dan bingung—menguji sejauh mana perannya bisa dipercaya.