Rumah Yang Menyimpan Duri

Chafid Firman
Chapter #5

BAB 5: Ilusi di Depan Kamera

Ruang tamu utama The Gilded Aviary, yang biasanya membeku dalam kesunyian, pagi ini berubah jadi panggung teater yang terang benderang. Lampu sorot berdaya tinggi dari kru televisi memancarkan panas yang menembus dinginnya udara pagi bulan November. Tiga baris kursi lipat disusun rapi di tengah ruangan, diduduki para jurnalis yang berbisik-bisik—seperti burung pemakan bangkai menunggu hidangan disajikan. Kamera dari berbagai stasiun berita disesuaikan fokusnya, mikrofon diuji, dan semua mata tertuju pada sepasang pintu kayu ek ganda di ujung ruangan.

Di balik pintu yang tertutup rapat, tersembunyi di ruang baca pribadi yang tak terjangkau publik, Julian Vance berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas ukir. Ia sudah didandani rapi: setelan jas wol biru kelasi yang dijahit khusus pas di tubuh kurusnya, dipadukan kemeja putih dengan kancing teratas terbuka tanpa dasi—pilihan busana yang dirancang untuk kesan kasual, elegan, tapi tetap memancarkan kerapuhan seorang pemuda yang baru lepas dari trauma panjang. Maria, kepala pelayan yang selalu bergerak tanpa suara, baru selesai menyisir rambut gelapnya, sengaja menyisakan sedikit helai untuk menyembunyikan parut luka lama di pelipis kirinya.

Julian menatap tajam pantulan dirinya di cermin. Laki-laki dalam bingkai kaca itu terlihat seperti pangeran dari kisah dongeng—bukan pesakit Rumah Sakit Jiwa St. Jude yang sepuluh tahun terakhir tidur di atas kasur tipis berbau pesing dan obat penenang.

"Kau terlihat sempurna," sebuah suara lembut namun sarat bisa beracun mengalun dari belakangnya.

Eleanor Montgomery melangkah anggun masuk ke bingkai pantulan cermin. Gaun sutra mutiara pucatnya membuatnya terlihat seperti dewi keibuan yang rapuh dan murni. Matanya yang biru pudar menatap Julian dengan intensitas yang menakutkan, seolah membelah topeng ketenangannya sampai ke dasar jiwa. Eleanor meletakkan kedua telapak tangan di bahu Julian, meremasnya perlahan—posesif.

"Ingat baik-baik setiap baris skrip yang kita pelajari semalam," bisik Eleanor, bibirnya tepat di telinga Julian. Napasnya membawa aroma pekat mint dan anggur putih. "Kau masih trauma. Kau tidak ingat detail bagaimana penculikan itu terjadi. Pikiranmu kabur, tapi kau bersyukur akhirnya bisa pulang ke keluargamu. Biarkan ayahmu yang lebih banyak bicara di depan mikrofon. Kalau ada pertanyaan yang terlalu mendesak, tundukkan wajahmu, buat tubuhmu sedikit gemetar, dan aku akan mengambil alih. Kau paham, Rian?"

"Saya paham, Ibu," balas Julian patuh, mempertahankan suaranya agar terdengar lelah dan tunduk. Kata 'Ibu' masih terasa seperti pasir yang menggores lidahnya—tapi ia tahu kepatuhan total satu-satunya kunci untuk bertahan di rumah yang dipenuhi duri ini.

"Bagus sekali," Eleanor tersenyum—senyum presisi yang tak pernah menyentuh matanya. "Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa keluarga Montgomery masih utuh dan tidak tergoyahkan."

Pintu kayu ek ganda dibuka dari luar oleh pengawal pribadi Alaric. Suara riuh puluhan jurnalis menerpa masuk seperti ombak menghantam karang. Kilatan lampu kamera memancar bertubi-tubi, membutakan pandangan Julian sesaat. Ia merasakan cengkeraman Eleanor di lengannya, membimbingnya paksa keluar dari persembunyian, masuk ke lautan cahaya yang menyilaukan.

Di hadapan mikrofon stasiun berita, Alaric Montgomery sudah berdiri tegap dan berwibawa. Jas hitam kelam yang membalut tubuhnya membuatnya tampak seperti diktator yang bersiap memberi pengampunan agung. Di sebelah kirinya, Vesper tersenyum manis dan begitu tulus—hingga Julian nyaris lupa ancaman pembunuhan yang dilontarkannya di ruang biliar kemarin. Cassian berdiri di ujung barisan, pucat dan gelisah, kedua tangannya dibenamkan dalam-dalam ke saku celana untuk menyembunyikan getaran jemarinya.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suara bariton Alaric bergema melalui pengeras suara, menenggelamkan semua bisikan dan suara rana kamera. Ia mengangkat sebelah tangan, dan seketika seluruh ruangan yang bising itu jadi sunyi. Kekuasaannya atas orang-orang di sekitarnya adalah pemandangan yang mengerikan untuk disaksikan.

"Terima kasih telah hadir pagi ini. Seperti yang kami sampaikan lewat pernyataan pers tadi malam, sebuah keajaiban baru saja terjadi di keluarga kami," Alaric menoleh perlahan ke Julian, otot wajahnya melembut, seolah baru saja menemukan kembali separuh jiwanya yang hilang. Julian tahu itu hanya lakonan tingkat tinggi—topeng porselen yang direka khusus untuk mengaburkan pandangan publik.

"Lima belas tahun lalu, dunia kami hancur ketika anak bungsu kami, Rian, direnggut paksa dari pelukan kami. Lima belas tahun kami hidup dalam bayang-bayang kesedihan yang tak berujung. Polisi mungkin sudah lama angkat tangan, tapi kami, keluarganya, tidak pernah berhenti mencari. Dan hari ini... harapan itu akhirnya dijawab Tuhan." Alaric mengulurkan tangannya yang besar ke arah Julian.

Lihat selengkapnya