RUMAH YANG SUNYI

Yuni ekawaty
Chapter #1

RUMAH YANG SUNYI

Pagi selalu datang tanpa pernah menanyakan kesiapan Reysa.

Ketika adzan Subuh masih menggantung di udara, Reysa telah terjaga. Matanya terbuka, menatap langit-langit rumah dengan pandangan kosong. Tidak ada mimpi indah yang tertinggal, hanya lelah yang menumpuk sejak hari-hari sebelumnya. Tubuhnya belum benar-benar beristirahat, tetapi waktu tidak memberi ruang untuk menunda.

Ia bangkit perlahan agar tidak membangunkan anak-anak. Langkahnya menuju dapur terasa berat, seolah setiap pijakan membawa beban yang tak kasatmata. Reysa menyalakan kompor, menanak nasi, memanaskan air, lalu menyusun bekal seadanya. Semua dilakukan dengan gerakan yang sama, berulang, tanpa perlu dipikirkan lagi. Seperti hidupnya yang kini berjalan dengan mode bertahan, bukan menikmati.

Di sudut ruang tamu, sajadah terlipat rapi. Reysa meliriknya sebentar. Ada rasa bersalah yang singgah, namun segera ia singkirkan.

“Nanti,” gumamnya pelan.

Kalimat itu sudah terlalu sering ia ucapkan. Terlalu sering hingga ia tak lagi ingat kapan terakhir kali ia benar-benar menepatinya.

Satu per satu anak terbangun. Suara pintu kamar terbuka, langkah kaki kecil berlarian, pertengkaran kecil yang selalu muncul di pagi hari. Reysa membagi dirinya ke empat arah sekaligus.

“Cepat mandi.”

“Jangan ribut.”

“Bukunya sudah dimasukkan?”

“Sepatunya di mana?”

Semua pertanyaan berakhir padanya. Semua solusi harus datang darinya.

Rumah itu ramai. Sangat ramai. Namun Reysa tahu betul, keramaian tidak selalu berarti hangat. Kadang justru membuat sunyi terasa lebih dalam.

Di tengah kesibukan itu, ketukan pintu terdengar. Tidak keras, tetapi cukup membuat dada Reysa menegang. Ia tahu siapa yang datang. Rumah mereka berdampingan. Jaraknya hanya beberapa langkah, tetapi sering terasa terlalu dekat.

Ibunya berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar, sorot matanya tajam namun penuh perhatian. Pandangannya menyapu ruang tamu, lalu berhenti pada cucu-cucunya yang masih ribut.

“Reysa,” ucap sang ibu pelan namun tegas, “anak-anak sekarang sering pulang terlalu malam.”

Reysa mengangguk.

“Ibu sering lihat mereka masih di luar saat malam.”

Nada suara itu bukan marah, tetapi cukup untuk membuat Reysa merasa gagal. Ia ingin menjelaskan banyak hal. Tentang betapa sulitnya mengatur empat anak seorang diri. Tentang lelah yang sering datang lebih cepat dari kesabaran. Tentang rindu pada suami yang membuat segalanya terasa timpang.

Namun kata-kata itu tertahan. Ia hanya menunduk.

Lihat selengkapnya