Pagi itu Reysa terbangun dengan kepala yang terasa berat, seolah semalaman ia membawa beban tanpa pernah benar-benar meletakkannya. Udara kamar terasa pengap. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih tertutup, sementara dadanya dipenuhi rasa cemas yang sulit dijelaskan.
Dari luar kamar, suara ribut sudah lebih dulu menyambutnya.
“Aku duluan!”
“Jangan dorong!”
Reysa memejamkan mata sesaat sebelum bangkit. Ia sudah tahu, hari ini tidak akan mudah.
Di dapur, Eza berdiri dengan wajah kesal. Dion menyenggolnya sambil mengomel. Ivan sibuk mencari sepatunya yang entah ke mana, sementara Qia menangis karena pita rambutnya tak ditemukan.
“Cukup,” kata Reysa, suaranya datar namun lelah.
“Duduk semua.”
Mereka menurut, meski dengan wajah yang menyimpan ketidaksabaran. Reysa menatap anak-anaknya satu per satu. Ada cinta di sana, tetapi juga ada rasa takut—takut ia tak lagi mampu mengendalikan semuanya.
“Kalian tahu tidak,” ucap Reysa pelan, “Ibu ini sendirian mengurus kalian.”
Tidak ada jawaban. Eza menunduk, Dion memainkan sendoknya, Ivan menatap lantai, Qia terisak kecil. Reysa menghela napas. Ia tidak tahu apakah kata-katanya sampai, atau justru menambah jarak di antara mereka.
Siang harinya, seperti yang sudah ia duga, ibunya datang berkunjung. Tanpa banyak basa-basi, pandangan sang ibu langsung tertuju pada rumah dan cucu-cucunya.
“Eza sekarang sering keluar malam,” kata ibunya.
“Dion ikut-ikutan. Anak-anak perlu diatur lebih tegas.”
Reysa menggenggam tangannya sendiri. Ia tahu semua itu. Ia hidup dengan kesadaran itu setiap hari.
“Iya, Bu,” jawabnya lirih.
Di dalam hati, Reysa ingin berteriak. Ia ingin mengatakan bahwa ia kelelahan, bahwa mengurus empat anak tanpa pasangan di sisi bukan perkara ringan. Namun ia memilih diam, karena diam sering kali terasa lebih aman daripada membuka luka.