Hari-hari Reysa terasa berjalan tanpa jeda, tanpa ruang untuk bernapas. Waktu tidak lagi terbagi antara pagi dan malam—semuanya menyatu menjadi kelelahan yang menetap. Tubuhnya bangun, bergerak, berbicara, tetapi jiwanya seperti tertinggal jauh di belakang.
Pagi itu, suara adzan Subuh terdengar lirih dari kejauhan. Reysa terbangun, duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih gelap. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi hatinya terasa kosong. Ia memandang sajadah yang terlipat rapi di sudut kamar, seolah benda itu sedang menunggunya.
Ia menarik napas panjang.
“Nanti,” gumamnya lagi.
Kata itu menjadi penghibur sekaligus jebakan. Setiap kali ia berkata nanti, jarak antara dirinya dan Allah terasa semakin jauh.
Di dapur, Reysa menyiapkan sarapan dengan gerakan yang nyaris tanpa kesadaran. Air mendidih, piring tersusun, nasi mengepul. Semua berjalan seperti rutinitas lama yang tak lagi membutuhkan hati.
Qia menghampirinya dengan langkah kecil. Anak bungsunya itu mengucek mata, lalu menatap Reysa dengan wajah polos.
“Ibu,” katanya lembut, “Qia mau shalat sama Ibu.”
Reysa terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Ada sesuatu yang menusuk dadanya—halus, tetapi menyakitkan.
“Ibu capek, Nak,” jawabnya pelan. “Qia duluan, ya.”
Qia mengangguk, meski wajahnya terlihat kecewa. Ia berjalan menjauh, meninggalkan Reysa dengan perasaan bersalah yang menggantung.
Reysa menunduk, menahan air mata. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang terdampak oleh jauhnya iman itu—anak-anaknya pun ikut merasakan.
Di sekolah, Reysa kembali mengenakan perannya. Di balik kerudung rapi dan suara lembutnya, ia adalah guru agama yang disegani. Ia berdiri di depan kelas, menjelaskan ayat-ayat tentang kesabaran dan tawakal.