RUMAH YANG SUNYI

Yuni ekawaty
Chapter #4

Ujian Setelah Niat

Reysa mulai menyadari satu hal:

niat untuk berubah tidak pernah datang sendirian. Ia selalu ditemani ujian.

Pagi itu, udara masih dingin ketika Reysa bangun. Jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Rumah masih terlelap, hanya suara napas anak-anak yang terdengar pelan dari kamar-kamar mereka. Reysa duduk sejenak di tepi ranjang, memejamkan mata, mengumpulkan keberanian.

Ia menggelar sajadah.

Gerakannya belum sepenuhnya tenang, pikirannya masih sering melompat pada daftar panjang tanggung jawab. Namun pagi itu, ia tidak lagi menunda. Ia berdiri, bertakbir, dan membiarkan dirinya hadir—meski belum utuh.

Usai shalat, Reysa menuju dapur. Rutinitas kembali menunggunya.

Dion keluar kamar sambil membawa seragam.

“Ibu,” katanya pelan, “yang ini masih agak basah.”

Reysa meraih seragam itu, merasakannya dengan tangan.

“Ibu carikan yang lain, ya. Kamu tunggu sebentar.”

Ivan menyusul, menyeret tasnya sendiri.

“Ibu, nanti kalau Ivan pulang… Ibu di rumah, kan?”

Reysa menoleh, lalu tersenyum kecil.

“Iya, Nak. InsyaAllah.”

Qia datang paling akhir, rambutnya masih acak-acakan. Ia berdiri diam di samping Reysa, lalu berkata lirih,

“Ibu… nanti shalat bareng Qia lagi, ya.”

Ada jeda singkat sebelum Reysa menjawab.

“Iya,” katanya akhirnya, “kita shalat bareng.”

Jawaban itu terasa seperti janji—bukan hanya untuk Qia, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Eza keluar kamar dengan langkah tenang. Wajahnya tampak lelah, namun ia berusaha tersenyum.

“Bu,” katanya hati-hati, “hari ini Eza mungkin pulang agak malam. Ada kegiatan.”

Reysa menatap anak sulungnya itu lama. Tidak ada nada membangkang, tidak ada penolakan. Hanya jarak yang halus, seperti tembok tipis yang belum runtuh sepenuhnya.

Lihat selengkapnya