RUMAH YANG SUNYI

Yuni ekawaty
Chapter #5

Suara yang Tidak Meninggi

Pagi itu datang tanpa tergesa, seolah memberi Reysa waktu lebih lama untuk merasakan hidupnya sendiri. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela ruang tamu, menyentuh lantai yang masih dingin. Rumah itu tetap sunyi, namun tidak lagi sepenuhnya kosong.

Reysa duduk di kursi dekat jendela, secangkir teh hangat di tangannya. Ia tidak membuka ponsel, tidak menyalakan televisi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan pagi berjalan apa adanya.

Langkah pelan terdengar dari arah dapur. Ibunya kembali datang, membawa sapu dan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.

“Kamu sudah shalat?” tanyanya ringan, seolah hanya basa-basi.

Reysa mengangguk.

“Sudah, Bu.”

Ibunya tidak langsung menanggapi. Ia menyapu lantai dengan gerakan tenang, lalu berkata,

“Ibu lihat kamu lebih diam akhir-akhir ini.”

Reysa tersenyum tipis.

“Aku lagi belajar dengar,” jawabnya pelan.

Ibunya berhenti menyapu.

“Itu baik,” katanya. “Kadang Allah tidak menegur lewat suara keras. Tapi lewat lelah. Lewat sunyi.”

Kalimat itu jatuh tepat di hati Reysa.

“Aku sering merasa sendirian, Bu,” ucap Reysa jujur.

“Padahal rumah ini penuh.”

Ibunya menatapnya lama.

Lihat selengkapnya