RUMAH YANG SUNYI

Yuni ekawaty
Chapter #6

Retak yang Tidak Bisa Disembunyikan

Hari itu dimulai dengan sesuatu yang terasa salah.

Reysa terbangun dengan dada sesak, seolah mimpi buruk masih menggantung di udara. Adzan Subuh telah berlalu tanpa ia sadari. Ia bangkit tergesa, menatap jam dinding dengan napas tertahan. Ada rasa bersalah yang belum sempat ia uraikan, menempel sejak matanya terbuka.

Ia duduk lama di tepi ranjang. Sunyi rumah terasa berbeda—lebih berat, lebih menekan. Tidak ada suara langkah Eza di kamar sebelah, tidak ada derit pintu kamar mandi. Hanya kesunyian yang menggantung.

Di dapur, suasana tidak seperti biasanya.

Eza belum keluar kamar. Dion duduk diam menatap meja, sendoknya berhenti di udara. Ivan mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera. Qia memeluk bantal kecil, matanya sembab seolah baru saja menangis.

“Ibu…” suara Dion lirih, hampir berbisik,

“Eza belum pulang semalam.”

Tangan Reysa gemetar. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat.

Belum pulang.

Ia berdiri kaku beberapa detik, lalu meraih ponsel dengan gerakan tergesa. Menekan nomor Eza. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Tidak aktif. Pesan-pesan yang ia kirim hanya berstatus terkirim—tanpa balasan.

“Ibu yakin Kakak baik-baik saja,” ucap Reysa akhirnya, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada anak-anaknya.

“Kalian sarapan dulu, ya.”

Namun ketenangan itu palsu. Senyumnya tipis, matanya kosong. Qia menatapnya lama, seolah ingin bertanya lebih banyak, lalu kembali memeluk bantal kecilnya.

Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.

Setiap bunyi kendaraan yang lewat membuat Reysa menoleh. Setiap pintu yang berderit membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mencoba melakukan pekerjaan rumah, tetapi tangannya terus gemetar. Pikirannya melayang ke mana-mana.

Hingga akhirnya, menjelang siang, pintu depan terbuka.

Eza berdiri di sana. Seragamnya kusut, wajahnya lelah, matanya merah. Ranselnya tergantung di satu bahu.

“Kamu ke mana?” suara Reysa bergetar, nyaris tidak keluar.

Eza menunduk.

“Maaf, Bu. Eza ketiduran di rumah teman.”

Nada itu tidak membangkang. Tidak ada perlawanan. Namun jarak di antara mereka terasa semakin nyata—jarak yang tidak kasatmata, tetapi dingin.

“Kamu tahu Ibu khawatir,” kata Reysa, kali ini lebih keras dari yang ia inginkan.

Lihat selengkapnya