RUMAH YANG SUNYI

Yuni ekawaty
Chapter #7

Saat Tidak Ada yang Tersisa Selain Doa

Pagi datang tanpa cahaya yang benar-benar cerah. Langit masih menggantungkan awan tipis, seolah ragu apakah hari ini pantas dimulai dengan terang. Reysa terbangun dengan tubuh yang terasa berat, tetapi pikirannya justru kosong—bukan kosong yang menakutkan, melainkan kosong karena lelah telah mencapai batasnya.

Ia tidak langsung bangkit. Untuk beberapa saat, Reysa hanya memandang langit-langit kamar, mendengarkan suara rumah yang masih terdiam. Tidak ada tangis. Tidak ada keluhan. Hanya sunyi yang akhirnya ia izinkan hadir.

Reysa bangkit perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih sajadah yang terlipat rapi. Tidak ada niat besar, tidak ada harapan muluk. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak punya tempat lain untuk bersandar.

Ia berdiri.

Shalat pagi itu berjalan sangat lambat. Setiap gerakan terasa seperti pengakuan. Setiap sujud terasa seperti penyerahan. Reysa tidak lagi berusaha kuat. Ia membiarkan dirinya rapuh, membiarkan air mata jatuh tanpa ditahan.

“Ya Allah,” bisiknya pelan, “aku sudah sampai di ujung.”

Tidak ada kalimat indah. Tidak ada doa panjang. Hanya kejujuran yang selama ini ia sembunyikan di balik kesibukan dan peran.

Usai shalat, Reysa duduk lama di atas sajadah. Dadanya masih sesak, tetapi ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh—seperti api yang baru dinyalakan, belum besar, namun cukup untuk bertahan.

Anak-anak mulai bangun satu per satu.

Qia keluar kamar lebih dulu. Ia menghampiri Reysa tanpa banyak kata, lalu duduk di sampingnya.

“Ibu capek?” tanyanya polos.

Reysa tersenyum tipis.

“Iya,” jawabnya jujur. “Tapi Ibu lagi belajar istirahat.”

Qia mengangguk, seolah mengerti lebih dari yang bisa ia ucapkan. Ia menyandarkan kepala di bahu Reysa. Tidak ada nasihat, tidak ada pelukan panjang—hanya kebersamaan yang sederhana.

Eza keluar kamar dengan langkah pelan. Ia berdiri ragu di ambang pintu, lalu berkata lirih,

“Bu… maaf soal kemarin.”

Reysa menatap anak sulungnya itu lama. Tidak ada amarah tersisa. Yang ada hanya rasa sayang yang dalam dan takut yang belum sepenuhnya hilang.

“Ibu cuma takut kehilangan kamu,” ucap Reysa pelan.

Eza mengangguk.

“Aku tahu.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada tangisan. Namun jarak di antara mereka terasa sedikit mencair.

Siang itu, Reysa menerima pesan singkat dari sekolah. Tidak ada teguran. Tidak ada keputusan besar. Hanya pemberitahuan penjadwalan ulang kelas. Hal kecil, tetapi cukup membuatnya bernapas lebih lega.

Lihat selengkapnya