Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #1

Bagian 1: Menjenguk Ibu

Ibu tidak banyak berubah dari terakhir kali aku menjenguknya. Wajahnya teduh, dengan sorot mata yang menyejukkan. Rambutnya mulai dihiasi semburat putih, namun tak cukup banyak, padahal usianya genap enam puluh tiga tahun, hari ini. Tubuhnya masih langsing dan kulitnya putih. Yang kulihat berubah dalam dirinya adalah bahwa ia kini rapi. Rambutnya yang panjang, kini diikat dengan rapi dan diberi pita. Bajunya juga bersih dan wangi. Lalu, aku melihat samar-samar polesan bedak dan lipstik di wajahnya. Ia tampak lebih berwarna!

Perawat muda yang mendorong kursi roda Ibu tersenyum ramah menyambutku. Aku baru kali ini melihatnya. Ya, tentu saja. Sudah setahun lalu, sejak terakhir kali aku kemari. Mungkin dia pegawai baru. Tetapi aku selalu punya ruang curiga dalam hatiku, sehingga ketika dia mencoba bersikap ramah pun aku menudingnya memiliki maksud yang tersembunyi. Aku melihat bahasa tubuhnya saat berbicara kepada ibuku. Mereka tampak sangat akrab. Perawat itu tampak menyayangi ibuku, dan ibuku juga sebaliknya. Dan aku tak suka melihatnya.

“Mbak, jam bezuk sampai pukul lima, ya,” kata perawat itu. Ekor mataku membaca nama di dada kirinya. Asqi Rahmadinta. “Silakan.”

“Mbak tahu kan, saya kerabat Dokter Cacha?” aku menatapnya tajam.

“Iya, tentu saja.” Aku merasakan nadanya tak selantang sebelumnya. Ada keseganan.

“Saya sudah meneleponnya dan ada kelonggaran jam bezuk,” tandasku. Tentu saja aku berbohong. Aku bahkan belum memberitahu Tante Cacha bahwa aku akan datang hari ini. Perawat itu tersenyum kecil dan mengangguk, lalu memutar badan dan berlalu.

Aku mendekati Ibu. Meraih tangannya dan menciumnya. Kulitnya lembut dan aromanya masih seperti dulu juga. Seperti aroma melati. Aku memeluknya dengan segenap rindu. Tangannya membalas rengkuhanku dan mengelus rambutku.

“Selamat ulang tahun, Ibu,” aku berkata terbata. “Aku membawakan cokelat kesukaan Ibu.” Aku mengangsurkan bingkisan kecil sekadarnya, yang kuhias dengan pita jingga—seperti namaku. “Kubukakan, ya?”

Ibu tersenyum.

Aku membuka bingkisan kecil itu. Rasa sesal menyelinap karena tak sungguh-sungguh memikirkan kado yang layak untuknya. Tetapi aku selalu diburu waktu, sehingga memikirkannya pun aku tak sempat.

Aku memotong coklat itu satu kotak. Ibu menerimanya. Mengamatinya dengan saksama sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Kulihat matanya berbinar.

“Enak kan, Bu?”

Ibu mengangguk. Dengan isyarat tangannya, ia meminta lagi. Aku memotongnya lagi. Ibu kali ini lebih lahap menghabiskannya. Jarinya yang belepotan cokelat dijilatnya. Aku mengangsurkan tisu, tetapi ia tak menerimanya. Ia lebih memilih membersihkan jari dengan lidahnya. Dan dalam sekejap sisa-sisa coklat telah lenyap dari jemarinya. Aku mengangsurkan botol mineral. Ibu mereguk beberapa kali lalu mengembalikannya kepadaku.

“Kita jalan-jalan?” aku menawarkan. Ibu mengangguk.

Setelah cukup lama berjalan-jalan memutari area taman, kami pun berhenti di sebuah kursi taman yang terletak di bawah sebatang pohon yang rindang. Kursi roda Ibu kudekatkan ke kursi taman, dan aku duduk di sebelahnya.

Lihat selengkapnya