Kondisiku sedang tidak fit. Kepalaku berdenyut-denyut dan perutku mual bukan main. Sepertinya aku terlalu lelah bekerja. Bulan ini memang sangat menguras energi. Ada beberapa pekerjaan besar di kantor yang dibebankan kepadaku karena perusahaan sedang dalam masa transisi, akibat manajer keuangan yang resign beberapa waktu sebelumnya. Akibatnya, aku harus mengisi posisi lowong itu secara de facto, mengerjakan beberapa tugas yang sebetulnya bukan bagianku, maraton rapat dan lembur dari hari ke hari. Kalaupun otakku dapat menyesuaikan diri dengan perubahan ritme kerja itu, tubuhku ternyata tidak. Aku drop. Beberapa kali terlambat makan, membuat asam lambungku naik dan aku pun harus beristirahat total sementara waktu. Sebenarnya dokter menyarankan untuk rawat inap, tetapi aku menolak dengan dalih aku merasa masih kuat untuk berobat jalan.
Tetapi aku bukan tipikal orang yang bisa berdiam diri. Berada di tempat tidur dalam keadaan tidak tidur dan tidak melakukan apa-apa, sangat membosankan buatku. Awalnya setelah menelan obat, aku memang bisa memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh, dan merasa rileks, tetapi kemudian aku mulai gatal untuk membuka ponsel. Begitu menyalakan ponsel, bunyi WA terdengar terus-menerus, begitu pula notifikasi email dan media sosial lain yang susul-menyusul. Akhirnya bahkan aku membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Gagallah bed rest-ku.
Tengah hari, Bude Warti masuk ke kamarku yang tidak terkunci, setelah mengetuk dua kali, dan terkejut melihatku sedang sibuk mengetik. Perempuan yang sudah belasan tahun mengabdi pada keluarga kami itu pun mulai mengomel.
“Mbak Jingga ini memang bandel. Dokter menyuruh untuk istirahat total, jangan turun dari tempat tidur selain ke kamar mandi. Eh, la kok ini sudah sibuk ketak-ketik laptop. Gimana, sih? Ayo tiduran lagi. Ini Bude sudah buatkan sup jagung kesukaan Mbak Jingga. Masih hangat. Ayo, berhenti dulu ngetiknya. Kembali ke tempat tidur. Bude suapin, ya?”
Bude Warti membawa nampan berisi nasi dan sup jagung yang masih hangat. Aromanya sungguh menggelitik perutku. Mau tak mau aku mematikan laptop. Membantah Bude Warti jelas tidak ada gunanya. Dia akan lebih bersikeras menghentikan aku. Luar biasa memang kekuatannya, galaknya pun bisa melebihi seorang ibu yang memarahi anaknya yang keras kepala.
Aku menghela napas.
Dengan telaten, Bude Warti menyuapiku nasi, yang sudah terlebih dahulu dicelup ke dalam sup. Setelah menelan suapan pertama, lidahku mendecap-decap.
“Enak,” komentarku.
“Ya jelas. Masakan siapa dulu,” Bude Warti menaik-naikkan alisnya, bangga.
Merasa tak sabar, aku mengambil alih piring dari tangan Bude Warti. “Aku bisa makan sendiri. Bude kerjakan pekerjaan lain saja,” aku berkata setengah mengusir.
“Tapi dihabiskan, ya?”