“Ayah seharusnya memanggil aku atau Bude Warti dulu kalau mau ke kamar mandi,” aku berkata sambil memperbaiki letak selimut di tubuh ayahku. “Kalau begini kan repot. Untung saja Bude Warti lekas menemukan Ayah. Kalau Bude tidak masuk ke kamar Ayah bagaimana, coba? Sepertinya sekarang Ayah tidak boleh pakai kamar mandi dalam kalau perlu buang air. Dan tidak boleh sendirian.”
Ayah hanya bergumam pelan.
“Besok Ayah ada jadwal terapi. Aku mau Ayah dalam kondisi yang baik hari ini. Sebenarnya sudah banyak kemajuan, tapi gara-gara kejadian ini, aku tidak yakin….” Aku menghela napas. “Apa yang Ayah rasakan? Bagaimana kaki dan tangan Ayah?”
Ayah menggumam lagi. Aku memandangnya iba.
“Maaf,” kataku. “Aku tidak bermaksud memarahi Ayah.”
“Senja mana?”
Ayah memang tak dapat bicara dengan jelas sejak ia stroke, dikarenakan saraf bibirnya yang tak berfungsi dengan baik. Tapi aku masih dapat memahami makna ucapannya.
“Kak Senja kemungkinan akhir pekan ini pulang. Katanya mau mampir jenguk Ibu dulu.”
Aku melihat kilasan kelam di mata Ayah.
“Ibu?”
Aku tertegun sesaat mendengarnya. Ini sudah tiga kali Ayah menanyakannya, sejak aku kembali dari Magelang untuk menjenguk Ibu. Sepertinya memorinya hanya dapat merekam informasi dalam jangka pendek, sehingga ia harus menanyakan hal yang sama setelah beberapa waktu.
“Ibu sudah jauh lebih baik,” jawaban itu juga yang selalu kuberikan. “Ibu tampak sehat dan segar. Kata perawat, tidak lama lagi, Ibu sudah boleh pulang.”
“Kapan?”
“Mungkin sebulan mendatang.” Sebenarnya, mengingat apa yang terjadi terakhir kali saat aku di sana, aku jadi ragu apakah benar Ibu sudah benar-benar sembuh. Monster yang bersembunyi dalam jiwa Ibu bisa saja bangkit sewaktu-waktu, dan itu sangat mengerikan. Tetapi demi menyenangkan Ayah, kukatakan saja apa yang disampaikan perawat, tanpa menambahinya dengan pendapat pribadiku.
“Ayah ikut.”
Aku mengernyitkan dahi. “Maksud Ayah?”
“Jemput… Ibu.”
Aku menarik napas. “Ya, asalkan Ayah janji jaga kondisi. Makan banyak, minum obat, terapi, tidak ke kamar mandi tanpa bantuan. Janji?”
“Ya. Ya.”
“Bagus.”
Ponselku berdenyit di meja. Aku meraihnya dan melihat nama Kak Senja muncul di layar. Aku menerima teleponnya.
“Halo, Kak.”
“Jingga. Apa kabar?”
“Baik-baik saja, Kak. Tapi Ayah baru saja jatuh di kamar mandi.”
“Hah?!”
Lengking suara Kak Senja membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Pantas perasaanku tidak enak dari tadi. Bagaimana kondisi Ayah?” Kak Senja bertanya dengan nada cemas.
“Sekarang sudah baik-baik saja. Sedang tiduran. Kapan Kakak pulang?”
“Besok, rencananya. Hari Sabtu. Tapi, sekarang rasanya ingin sekarang juga terbang ke Jogja. Ingin bertemu dengan Ayah.”
“Katanya mau jenguk Ibu dulu?” aku mengingatkan.
“Waktu kau jenguk, Ibu baik-baik saja, kan?”
“Mmmm….” Aku berpikir sesaat. “Ya, sejauh pengamatanku, baik-baik saja, meskipun….”
Stop. Jangan teruskan. Aku mencegah diriku bicara lebih jauh.
“Meskipun?” Telinga tajam Kak Senja menangkap keraguanku, dan dia tak ingin membiarkanku berkelit.
“Nanti saja, kalau Kakak sudah pulang, aku ceritakan. Jadi, kapan Kakak pulang?”
“Sore ini. Sepulang kantor. Dengan pesawat.”
Cepat sekali ia mengubah keputusan. Dari Sabtu menjadi Jumat. Lalu, aku menangkap isyarat dari Ayah. Dia ingin berbicara dengan Kak Senja.
“Sebentar, Kak. Ayah ingin bicara.” Kudekatkan ponsel ke telinga Ayah.
“Halo…,” ucap Ayah terbata.
“Ayah, bagaimana kondisi Ayah? Aku akan pulang sore ini juga. Ayah tunggu aku, ya? Pokoknya Ayah harus sehat-sehat sesampaiku di sana. Sudah dulu ya. Aku harus siap-siap, mudah-mudahan masih dapat tiket.”