Keesokan harinya, demamku sudah reda, tetapi tubuhku masih terasa lemas, sehingga aku memutuskan untuk menunda berangkat ke kantor. Karena aku baru saja pulih, Kak Senjalah yang pergi mengantarkan Ayah untuk terapi di rumah sakit. Sementara itu, aku merasa harus mulai membereskan kekacauan yang telah kutimbulkan selama beberapa hari, dimulai dengan mengurus diriku sendiri.
Aku mandi berendam dengan air hangat. Menikmati sentuhan air yang melesap ke pori-pori. Mandi berendam air hangat adalah salah satu hal yang paling kuingat dari ibuku. Sementara orang-orang lain hanya mengelap tubuh anaknya atau bahkan tidak memandikan anaknya saat demam, ibuku berbeda. Ia selalu menyuruh anak-anaknya berendam air hangat saat kami demam. Belakangan, aku mengetahui bahwa air hangat memiliki fungsi detoksifikasi secara alami. Saat berendam air hangat, hormon dan sistem endrokin menjadi aktif dan membuat tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak. Keluarnya keringat itulah yang membuat racun keluar dari dalam tubuh.
Kupejamkan mataku. Mencoba untuk mengosongkan pikiranku. Namun, itu hanya dapat berlangsung beberapa menit. Benakku kembali gaduh. Bayangan ibu dan Asqi melintas, berselang-seling dengan pekerjaan kantor,
Kamar sudah beres setelah aku selesai mandi. Sudah pasti Bude Warti yang merapikannya. Buku-buku yang berserak di meja, telah kembali ke sudut meja dalam tumpukan yang rapi. Seprei telah diganti dengan yang baru. Tempat sampah di sudut ruangan sudah kembali kosong tanpa bungkus-bungkus snack. Dan yang paling menyenangkan, di meja kerja telah terhidang secangkir teh dan sekotak donat J.Co.
Eh, donat? Siapa yang beli? Tidak mungkin Kak Senja dan Ayah sudah pulang dari rumah sakit. Belum ingin menelisik lebih lanjut, aku duduk di meja kerja yang berfungsi ganda sebagai meja rias. Mengeluarkan peralatan mekap dari rak kecil di atas meja. Sekadar membubuhkan pelembab dan bedak tipis-tipis di permukaan kulitku yang terasa kering, mengoleskan lisptik sekadarnya, kemudian menyisir rambut sebahu yang sebenarnya sudah ingin kupangkas pendek tetapi belum punya waktu ke salon. Bagaimana bisa ke salon? Aku berangkat kerja pukul tujuh dan tiba kembali di rumah sudah menjelang magrib. Beberapa waktu belakangan, Sabtu pun sering ada pekerjaan tambahan di kantor. Selain itu, sebenarnya aku bukan tergolong perempuan yang suka pergi ke salon.
Pada saat itulah ponselku berdenyit. Bunyi pesan masuk dengan nada khusus. Aku buru-buru meraih ponsel dan membukanya.
Sebuah pesan WA menjawab pertanyaanku atas donat misterius itu.
“Hai, Jeje, kudengar kau sakit. Gimana kondisimu sekarang? Aku kirim donat, apa sudah sampai?”
Damar. Tanpa sadar, senyumku terkembang lebar.
“Hai, Damar, donatnya sudah sampai. Terima kasih,” balasku.
“Dan kamu? Sudah sehat?”
“Hmmm, tinggal menunggu pemulihan.”
Selang beberapa menit, tak ada balasan lagi. Namun kemudian ada panggilan VC masuk. Seraut wajah muncul di layar ponsel. Tulang pipi yang tinggi, sorot mata teduh, senyum tulus, perpaduan yang membuat ia terlihat menyenangkan di mataku. Ada rasa hangat mendadak merayap-rayap di dadaku.
“Hai,” aku meringis. “Kapan balik dari Singapura?”
“Kemarin,” sahutnya. “Kemarin lusa, tepatnya. Kemarin siang aku baru tahu kau sudah berhari-hari tidak masuk.”