Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #5

Putar Haluan

Kami sudah berteman cukup lama, sejak masih duduk di bangku SMA. Damar satu tingkat di atasku. Namun, meski kakak kelas, dia cukup akrab dengan geng kami yang terdiri dari lima orang—semua teman seangkatan. Pasalnya, salah satu anggota geng kami adalah sepupunya. Kami sering bertemu saat bertandang ke rumah Emil—anggota geng kami. Kami sering hang out bareng. Kami sempat tidak berkontak lama setelah Damar lulus dan melanjutkan kuliahnya di Australia, namun kami bertemu kembali setahun lalu, saat ternyata, kami bekerja di kompleks gedung perkantoran yang sama. Dia kini telah menjadi redaktur majalah otomotif, sedangkan aku akuntan di perusahaan iklan. Kantor kami hanya beda satu lantai. Aku di lantai dua, dia di lantai tiga. Beberapa waktu belakangan ini, kami cukup intens bertemu. Semula hanya janjian makan siang bareng di kantin, tapi kemudian dia sesekali mengajakku untuk bergabung dengan teman-temannya. Sekadar ngopi atau nonton film.

Aku dan Damar bagaikan dua kutub utara dan kutub selatan. Damar adalah sosok yang cukup mulus menapaki kehidupannya; dibesarkan di sebuah keluarga yang settle, hidup nyaris tanpa konflik, kuliah di luar negeri, karier yang mulus. Sementara aku harus tersaruk-saruk menapaki jalan terjal berbatu. Damar cukup mengikuti kisah hidupku, dan merupakan salah satu support system yang kupunya dalam melalui masa-masa sulitku di SMA, meski hubungan kami tak pernah lebih dari sekadar sahabat. Satu perbedaan yang mencolok lagi antara kami adalah dia sangat awet dengan pacarnya, sementara aku tidak pernah langgeng dalam pacaran. Semasa SMA, aku tiga kali berganti pacar.

Malam itu, kami duduk di Epic Coffee di spot favorit kami di bagian outdoor. Aku diam-diam memerhatikannya saat dia mengamati buku menu di tangannya. Setahun kembali bertemu dengannya, aku hampir tidak pernah menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, tapi entah mengapa malam itu aku tergelitik menanyakannya.

By the way, gimana kabar Cynthia?” aku bertanya. Cynthia adalah pacarnya di SMA. Damar melepaskan pandangannya dari buku menu. Keningnya berkerut samar.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan Cynthia?” ia balik bertanya.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Nggak apa-apa. Hanya ingin tahu. Jangan-jangan kalian masih awet sampai sekarang, ya?”

Damar tertawa kecil. “Kalau masih awet, nggak mungkinlah aku sekarang berada di sini denganmu. Aku pasti akan lebih pilih hang out sama dia.”

“Iya juga, sih,” aku tertawa konyol. “Tapi kamu tahu kabar dia? Masih kontak?”

“Mmm, sejak kuliah di Australia, kami memutuskan jalan sendiri-sendiri. Dia bukan tipe yang bisa LDR. Tahulah cewek kayak dia, bukan tipe cewek yang mandiri. Dia biasa butuh dianter sana-sini, ditemenin pacarnya…. Yah, begitulah.”

“Tapi kau sempat punya pacar di Australia?”

“Sempat. Tapi nggak lama.”

“Bule?”

“Aku pecinta produk dalam negeri, kok,” sahutnya kocak. Kami tertawa bersama. “Kalau kamu sendiri, gimana?”

Aku mengedikkan bahu. “Aku sama sekali nggak pacaran selama masa kuliah sampai saat ini.”

Sepasang mata Damar terbelalak tak percaya. “Masa, sih? Seorang Jingga, yang waktu SMA punya tiga pacar sekaligus?”

“Sekaligus? Enak aja!” sergahku. “Nggaklah. Cuma memang sempat tiga kali berganti pacar dalam waktu berdekatan,” entah mengapa aku tiba-tiba muak mengingatnya.

“Lalu, kenapa kamu nggak punya pacar lagi?”

“Bosan. Pacaran itu ibarat kamu pengen banget makan sesuatu yang tampaknya lezat, tapi ternyata tidak seperti yang kau bayangkan, lalu kau berhenti makan. Lalu saat pengen sesuatu yang lain lagi, tapi pada akhirnya berhenti makan lagi saat merasa tidak seenak yang kau bayangkan. Siklus itu terus berulang, sampai akhirnya kau merasa bosan.”

“Pacaran seperti makan, katamu? Sebuah pemikiran yang unik.”

“Bukan aneh, ya?”

“Sedikit aneh,” Damar meringis. “Tapi kau baik-baik saja, kan?”

Nggak juga, sih. Kadang aku juga kesepian. Tapi kesepianku lebih nyaman ketimbang berkorban banyak hal dalam pacaran.”

“Kakakmu, Senja? Bagaimana kabarnya?”

“Baik. Dia sudah punya keluarga kecil. Bahagia, tak kurang suatu apa, kurasa.”

Damar mengangguk-angguk. Ia mengangsurkan buku menu kepadaku.

Lihat selengkapnya