Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #6

Di Bawah Titik Nol

Dulu, aku selalu meyakini bahwa aku memiliki segalanya. Keluarga yang harmonis, ayah yang sukses dalam karier, ibu yang penyayang, kondisi finansial di atas rata-rata. Ayahku seorang diplomat dan harus sering bepergian atau bahkan menetap selama beberapa waktu di luar negeri. Jadi, sejak kecil aku dan Kak Senja beberapa kali berpindah ke luar negeri untuk mengikuti ayah kami. Kami pernah bermukim di Australia, Belanda, dan Inggris selama beberapa waktu, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan Ibu memutuskan kembali ke Jogja, kampung halamannya, ketika menyadari ia hamil anak ketiga, sementara Ayah tetap di Jakarta.

Selama lima belas tahun, kupikir aku akan menjadi anak bungsu dalam keluarga kami. Itulah mengapa ketika mengetahui Ibu hamil lagi, bukan hanya Ibu yang terguncang karena ketidaksiapannya, aku pun demikian. Rasa kesal karena melihat kondisi Ibu yang lemah semasa kehamilannya, hilangnya sosok tangguh seorang Ibu yang biasa diperlihatkannya kepada kami, hilangnya perhatian kepadaku, semua berakumulasi menjadi perasaan marah ketika pada akhirnya adik laki-lakiku lahir, dengan penyakit jantung bawaan.

Sejak kemunculannya di rahim Ibu hingga lahirnya ke dunia, Awan selalu merepotkan banyak orang. Sebenarnya ketidaknormalan kondisi Awan sudah terdeteksi di masa kehamilan Ibu, dan Dokter telah memperingatkannya. Akan tetapi, rasa cinta yang begitu besar membuat Ibu mempertahankan Awan. Begitulah. Acapkali manusia menempatkan cinta di atas segalanya, bahkan di atas hidupnya sendiri.

Kecemasan itu melingkupi kami dari hari ke hari. Awan bukanlah bayi kecil yang bahagia, seperti bayi-bayi lain. Jika bayi lain menangis dapat menumbuhkan perasaan sayang di telinga mereka yang mendengarnya, Awan sebaliknya, selalu menimbulkan kekhawatiran, bahkan kengerian. Setiap kali menangis, napasnya megap-megap. Atau sebaliknya, karena kesulitan bernapas, ia jadi menangis. Hal ini kerap terjadi saat ia sedang menyusu. Bibirnya membiru dan keringat dinginnya bercucuran. Hari-hari dipenuhi kepanikan dan kemarahan Ibu. Saking stresnya, Ibu sering melampiaskan kemarahannya kepada kami, aku dan Kak Senja. Tapi Ibu lebih sering marah kepadaku karena aku lebih sering berada di dekatnya dan hampir selalu tak siap membantunya. Sementara itu, Kak Senja selalu lebih aman karena pulang sekolahnya lebih sore, dan lebih punya banyak kegiatan di sekolah.

Aku kesal sekali dengan adik bungsuku. Di saat-saat tertentu, saat Ibu meminta aku mengawasi Awan jika dia mandi atau ada suatu keperluan, aku sering mengamati Awan. Tak ada rasa iba saat melihat wajah polosnya yang tertidur, yang ada hanyalah kemarahan. Makhluk kecil itu telah mengacaukan hidupku. Makhluk keci itu telah membuatku terempas ke sudut yang paling gelap. Tak terjangkau oleh perhatian Ibu. Aku menjadi sesuatu yang tak berarti lagi bagi ibuku. Seperti remah-remah roti yang tertinggal di piring.

Suatu ketika, Ibu memintaku menjaga Awan yang sedang tidur, padahal aku sedang asyik membaca komik kesukaanku. Karena Awan sedang tidur, aku pun merasa aman membaca di sofa, berseberangan dengan tempat tidur. Tiba-tiba, terdengar bunyi berdebuk, disusul tangis bayi. Awan yang ketika itu sudah bisa membalikkan badan, terjatuh dari kasur ke lantai. Aku panik bukan main. Kulempar komik ke sembarang arah lalu buru-buru memungut bayi ringkih itu. Sumpah saat itu aku serasa mau mati saja. Tangis adikku megap-megap hingga wajahnya membiru. Sambil menggendongnya aku berlari ke kamar mandi dan menggedor pintunya.

“Ibu, Ibu, Awan jatuh!” teriakku.

Ibu keluar hanya dengan berbalut handuk dan busa sabun yang masih menempel di badannya. Ia tampak panik luar biasa. Tapi yang lebih mengerikan dari itu, dia murka kepadaku. Direnggutnya Awan dari gendonganku.

“Ibu sudah bilang jagain! Kenapa bisa jatuh? Kau mau nyusahin Ibu?” Sorot matanya yang tajam menghunjam hingga ulu hatiku. Ibu mendekap Awan di dadanya, berjalan tergesa hingga menyenggol bahuku dengan keras, sebelum ia meninggalkanku tergugu di depan kamar mandi.

“Maaf…” Kata itu meluncur jatuh di kakiku, bersama bulir airmataku.

Sejak peristiwa Awan jatuh dari tempat tidur, akhirnya Ibu mencari asisten rumah tangga. Sebelumnya Ibu bersikeras untuk mengerjakan semuanya sendiri, tetapi atas saran keluarga, Ibu kemudian mencari asisten rumah tangga. Datanglah Bude Warti ke dalam kehidupan kami.

Kedatangan Bude Warti sangat membantu, setidaknya yang terkait dengan pekerjaan rumah tangga. Sejak Awan lahir, pekerjaan Ibu memang bertambah banyak, belum lagi ditambah dengan beban psikisnya. Kata Tante Cacha, yang rajin memantau kesehatan psikis Ibu, Ibu mengalami baby blues. Tak heran. Dengan situasi seperti itu dan tanpa kehadiran ayahku, pastilah beban Ibu sangat berat. Namun, sayangnya, ia bukannya mendekat kepada kami untuk membagi bebannya itu. Ia terus menjauh, tak tergapai tangan-tangan kami. Ibu menjadi sosok asing di rumah kami. Ia mengurung diri dalam dunianya sendiri, kekalutannya menghadapi Awan, bergelut dengan kecamuk emosinya, antara merasa bersalah, merasa tak mampu menangani, merasa ditinggalkan ayah kami, dan sebagainya. Yang kami dapatkan bukanlah seorang ibu yang manis seperti di masa-masa dahulu. Ibu saat itu telah bermutasi menjadi monster dengan kemarahan-kemarahannya yang tak terbendung.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ibu memberanikan diri untuk menyerahkan Awan dioperasi pada umurnya yang masih muda, dua bulan. Ayah sempat pulang ketika itu dan menunggui selama kurang lebih dua minggu. Sesaat beban Ibu terangkat dengan keberadaan Ayah di sampingnya. Namun, ketika Ayah harus kembali ke Jakarta, Ibu kembali terpuruk. Kondisinya bahkan lebih parah dari sebelumnya. Kondisi Awan tak cukup membaik dengan operasi itu. Dan waktu-waktu itulah yang sangat menyiksa buat kami—aku dan Senja. Dengan perasaan getir, kami menyaksikan Ibu yang sering melamun dan sangat sulit diajak berkomunikasi. Ibu mengalami depresi yang cukup berat.

Lihat selengkapnya