Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #7

Lolos dari Lubang Jarum

Kak Senja kembali ke Jakarta subuh itu. Ia mewanti-wanti kepadaku untuk lebih memerhatikan kondisi Ayah. Ia juga memintaku mengabarinya jika ada kabar kapan Ibu bisa dibawa pulang.

“Aku tidak bisa meninggalkan Jakarta lama-lama. Ada bisnis yang harus kuurus.” ia berkata. “Tapi aku janji akan pulang bersama Mas Arya, juga Rachel dan Vasya, jika Ibu sudah kembali,” ia berkata. Rachel dan Vasya adalah kedua putrinya. “Ibu belum pernah bertemu dengan mereka.”

Meski setengah hatiku tidak dapat menyepakati keinginannya, aku hanya mengangguk mendengar kata-katanya. Menatap punggung Kak Senja menjauh, menuju taksi online yang akan membawanya ke stasiun, ada rasa kehilangan yang merayap-rayap di dadaku. Bagaimanapun, kami pernah menjalani masa-masa berat bersama di masa remaja. Aku pernah melihatnya berada dalam kondisi paling terpuruk saat dinyatakan tidak lulus ujian nasional di SMA. Itu sebuah pukulan terberat buatnya, mengingat sejak kecil ia selalu dikenal sebagai murid berprestasi. Yang mengagumkan, mesti melalui proses yang cukup panjang, ia berhasil keluar dari kegelapan. Ia bangkit dan melanjutkan hidupnya. Kini ia telah berkeluarga, dengan seorang suami yang cukup sukses dalam kariernya, dan dua putri yang cantik. Diam-diam aku merasa bangga kepadanya. Sekaligus juga iri. Suatu saat aku juga ingin membangun keluargaku sendiri. Dengan kebahagiaan yang serupa.

Hari itu aku harus kembali ke kantor. Cerita Damar terus terngiang di telingaku. Aku ingin memastikan bahwa pekerjaanku masih baik-baik saja. Namun, bagaimanapun aku harus menyiapkan kemungkinan yang terburuk, bahwa aku harus putar haluan, seperti kata Damar. Mencari pekerjaan baru.

Kikan, sahabatku, buru-buru menarikku ke kubikelnya begitu aku muncul di ruangan. Wajahnya tampak prihatin.

“Kamu sudah sembuh? Sekarang baik-baik saja?” ia bertanya.

“Ya, seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.”

“Baguslah. Aku sudah khawatir.” Ia menunjuk kursi di dekat mejanya. “Duduk, deh.”

Aku pun menurut.

“Ada perkembangan yang sangat drastis di kantor ini,” ucapnya dengan suara pelan. Ia kemudian berdiri dan memandang sekitar kubikel. Memastikan situasi aman untuk berbicara, dugaanku. “Perusahaan kita sedang dalam masalah besar.”

“Aku tahu sejak Pak Syahri….”

“Ini bukan hanya Pak Syahri,” tukas Kikan. “Beberapa orang dirumahkan.”

“Akan dirumahkan, maksudmu?”

“Sudah dirumahkan. Jumat kemarin.”

Aku terbelalak. Ini agak berbeda dengan cerita Damar.

“Bagian kita juga terkena. Kau tidak akan menduga siapa orangnya.”

“Aku?” Spontan aku menunjuk diriku. Rasa panik menyergap tenggorokan hingga membuat suara yang kukeluarkan nyaris seperti bunyi mencicit.

“Mas Bima.”

“Hah? Kenapa jadi Mas Bima?”

“Aku nggak tahu pastinya, Je. Tapi yang kudengar, sumpah, sangat nggak enak di kuping. Mereka menggunakan alasan Mas Bima yang sering nggak masuk karena anaknya sakit. Kita tahu anaknya mengidap leukemia, kan? Mas Bima nggak masuk kerja bukan karena dia tidak disiplin, tapi semata-mata karena harus mendampingi anaknya yang masuk rumah sakit. Tapi semua itu seakan-akan membuat kerja Mas Bima selama ini menjadi tidak berarti apa pun. Padahal dia inilah orang terdepan di bagian accounting. Dan yang paling nyesek, dia itu pencari nafkah tunggal. Istrinya ibu rumah tangga. Kalau Mas Bima kehilangan pekerjaan, lalu bagaimana keluarga mereka yang sedang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan anaknya?” Suara Kikan bergetar. Kulihat matanya berkaca-kaca. Baru kali ini aku melihat sahabatku itu begitu emosional.

Aku menghela napas dalam-dalam. Aku masih tak percaya mendengar cerita Kikan. Ada apa ini? Mengapa jadi Mas Bima, dan bukan aku seperti yang dikatakan oleh Damar? Adakah sesuatu yang terjadi? Aku memang tidak ingin kehilangan pekerjaan, tetapi aku sangat menyesalkan keputusan pemecatan Mas Bima. Meski bukan yang paling senior, Mas Bima ini adalah karyawan yang sangat berdedikasi. Kerjanya bagus. Loyalitasnya tak perlu diragukan. Apakah hanya karena tidak masuk kerja karena menunggui anaknya yang sakit, itu membuat semua jasanya pada perusahaan bisa dikesampingkan?

“Kalau saja aku bisa memilih, Je, lebih baik aku saja yang dipecat daripada Mas Bima,” Kikan meneruskan. Ia menyambar tisu di meja dan menyeka matanya yang basah. “Itu lebih fair rasanya. Aku masih lajang, belum ada tanggungan. Aku hanya menghidupi diriku sendiri. Aku masih punya lebih banyak kesempatan ketimbang Mas Bima, kurasa.”

Aku menggeleng. “Kinerjamu bagus. Tentu saja nggak fair jika kamu yang dipecat. Mestinya itu adalah aku.” Berbagai ingatan berkilasan. Aku bukan karyawan yang bisa dikatakan baik. Aku berantakan. Aku termasuk karyawan yang tak cukup patuh dengan perusahaan. Banyak membantah di rapat, sering memprotes kebijakan. Terakhir, karena kedekatanku dengan Pak Syahri, aku juga sudah mendapat cap buruk dari perusahaan. Dianggap memuluskan jalan Pak Syahri dalam menyelewengkan uang perusahaan. Kalau mencari yang paling pantas, akulah yang paling pantas di-PHK, bukan Mas Bima

“Aku mau ke HRD,” aku berkata.

“Eh, mau ngapain?”

“Ingin bertanya, kenapa Mas Bima.”

Aku memelesat keluar dari kubikel Kikan, setengah berlari menuju ruangan HRD yang letaknya berseberangan dengan ruangan bagian accounting. Aku membuka pintu kacanya dan menghambur masuk.

“Jingga, ada apa?” Mbak Wenda, salah satu staf HRD bertanya kaget melihat kedatanganku yang terburu-buru.

“Mau ketemu Pak Indro,” aku menyebut nama Kepala HRD.

“Belum datang. Ada apa, kalau aku boleh tahu?”

Aku menarik kursi di depan meja Mbak Wenda tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. “Aku mau bertanya, mengapa Mas Bima dipecat. Apa alasannya?”

Lihat selengkapnya