Perubahan.
Tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan. Panta rei kai uden menei, kata Herakleitos. Tak ada satu pun yang menetap. Perubahan bagaikan aliran air sungai. Air sungai yang mengalir saat ini berbeda dengan air sungai yang mengalir beberapa menit kemudian. Segala awal adalah permulaan dari akhir, dan semua yang hidup adalah permulaan dari yang mati. Hidup selalu berputar, tak pernah menetap di titik yang sama.
Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. Membiasakan diri kehilangan sosok ibu dengan cara yang paling tak terbayangkan, merawat luka yang tak juga mengering seiring waktu hingga mencapai titik pulih, tentu bukan perkara yang mudah. Banyak hal yang telah terjadi. Kami harus bergulat baik dengan diri kami sendiri maupun dalam menghadapi dunia keras di luar sana. Peran Ibu, yang tak pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh Ayah, tentu saja berpengaruh pada perkembangan kami di masa-masa selanjutnya. Ayah kulihat sangat lelah, tetapi ia menyembunyikannya dengan baik di hadapan kami, anak-anaknya. Sempat kupikir Ayah akan meninggalkan Ibu dan menikah lagi, tetapi ternyata itu tidak terjadi. Akan tetapi dengan beban seberat itu, Ayah tak sekuat yang tampak di luar. Pada puncak keletihannya, stroke melumpuhkan sebagian saraf tubuhnya.
Kupikir dunia kami akan runtuh ketika itu. Kupikir Kak Senja akan terpuruk lagi. Atau aku yang kehilangan kewarasan. Namun ternyata aku salah. Atau, setidaknya begitu yang kuyakini. Sejak Ayah stroke, ia tidak bisa bekerja lagi, dan akhirnya pensiun dini. Namun ia masih punya cukup banyak uang untuk mengentaskan kami dari bangku kuliah. Beberapa asset yang didapatkannya selama bekerja, lambat laun habis untuk menutup kebutuhan kami. Kondisi tak pernah sama lagi, tetapi kami harus terus melanjutkan hidup. Kami harus bekerja keras untuk dapat bertahan hidup dari ke hari. Akhirnya, Kak Senja lulus kuliah, dan seorang pangeran menyelamatkannya dari kehidupan menyesakkan kami, dan mereka punya anak yang lucu-lucu. Sementara itu, aku menyelesaikan kuliah dengan susah payah, mendapatkan keberuntungan dalam mendapatkan pekerjaan untuk bisa memutar roda kehidupan
Saat semua terasa normal kembali bagi kami, kini kami harus kembali berhadapan dengan perubahan. Ibu pada akhirnya akan kembali. Di satu sisi ada kebahagiaan, namun di sisi lain ada kekhawatiran. Mungkin yang kedua jauh lebih besar. Karena telah terbiasa tanpa keberadaan ibu, kini kami harus bersiap untuk kembali mengenalnya. Pasti sangat canggung rasanya.
Kak Senja sangat gembira mendengar kabar dariku. Ia segera mengajukan cuti lagi untuk ikut menjemput Ibu. Ayah juga tampak bahagia. Namun aku, tiba-tiba merasa takut sendiri. Aku menyiapkan kamar untuk menyambut Ibu. Kamar itu sudah lama tak ditempati dan hanya menjadi tempat untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Tak mungkin tiba-tiba menempatkan Ibu di kamar yang ditempati Ayah karena aku belum yakin benar bagaimana kondisinya. Semua perlu waktu untuk beradaptasi dengan kondisi yang baru. Jadi, aku memutuskan untuk menyiapkan kamar lama Ibu dan membiarkan Ayah berada di kamar yang lain. Kak Senja menepati janjinya untuk datang bersama suami dan anak-anaknya. Setelah berunding kami memutuskan bahwa yang pergi menjemput Ibu adalah aku, Kak Senja ditemani suaminya, Mas Arya. Anak-anak tetap di rumah, bersama Ayah dan Bude Warti.
Seandainya Tante Cacha tidak menemani kami, mungkin perjalanan kembali terasa sangat asing buat kami. Ibu nyaris tak bersuara di sepanjang perjalanan. Pandangannya hanya terarah ke luar jendela mobil. Entah karena canggung, atau terpukau melihat kembali suasana jalan raya, atau keduanya. Tante Cacha-lah yang selalu mencairkan suasana. Tante Cacha juga sangat paham bagaimana perasaanku. Bertiga duduk di bagian belakang, dengan Tante Cacha berada di tengah, ia kerap memergokimu memandangi Ibu yang tidur. Ia menepuk-nepuk punggung tanganku.
“Jangan khawatir,” bisiknya. “Semua akan baik-baik saja. Ibumu sudah sangat terkendali.”
Aku hanya tersenyum tipis dan berusaha meyakinkan diriku.
Suasana emosional terjadi ketika untuk pertama kalinya Ibu kembali bertemu dengan Ayah. Sejak terkena stroke beberapa tahun lalu, Ayah memang tak pernah ikut saat kami menjenguk Ibu. Dan hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bertemu. Ada tangis tertahan di antara keduanya saat mereka saling berpegangan tangan tanpa sepatah kata pun. Tapi dari cara mereka bertatapan, cinta yang masih teramat kuat memancar dari diri keduanya. Ibu juga memeluk Rachel dan Vasya, tampak takjub melihat kedua makhluk cantik yang belum pernah dijumpainya itu. Bude Warti tak kuasa menahan tangis saat mencium tangan Ibu. Tetapi Awan, ia tak kulihat di mana pun. Seperti biasanya, ia selalu lenyap di saat-saat yang penting.
“Jeje, Ibu harus istirahat dulu,” kata Tante Cacha menyadarkan kami. “Antarkan Ibu ke kamar ya.”
“Baik, Tante,” jawabku. “Bude Warti, tolong bawakan tas-tas Ibu, ya.”
“Ya, Mbak,” sahut Bude Warti.
“Selamat datang kembali di kamar, Ibu,” aku membuka pintu kamar lebar-lebar. Bude Warti menyusup masuk membawa tas Ibu. Sementara itu, Ibu tertegun di muka pintu. Ia melangkah masuk dengan sangat pelan. Menyusuri sisi ke sisi, mengelus perabotan, meraih pigura foto di meja rias: gambar keluarga kami, memandang dari sudut ke sudut. Terakhir ia melangkah ke tempat tidur, mengelus seprai lalu duduk perlahan seakan tak ingin menyakiti kasurnya.
“Semuanya aku tata kembali seperti semula,” aku berkata seraya duduk di sampingnya. “Semoga Ibu suka.”
Ibu menoleh ke arahku dan tersenyum. Ia kemudian melihat boneka di tempat tidur, meraih dan mendekapnya.