Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #9

Tirai yang Tersibak

Detik-detik bergerak lambat. Aku melihat Ibu termangu menatap sosok yang berdiri di sisiku. Kakinya menapak maju. Selangkah lalu berhenti. Tatapannya tertuju ke arah sebelahku. Sorot matanya tampak tajam. Namun, beberapa saat kemudian berubah lembut.

“Siapa ini?” ucapnya serupa bisik. Suaranya bagaikan angin yang mendesau di sela dedaunan. Ibu menoleh ke arahku.

“Awan, Bu,” sahutku. Samar aku melihat alisnya berkedut, tampak menyembunyikan rasa terkejut.

Aku berharap Ibu akan menjangkau Awan dan memeluknya erat karena ini pertama kali ia bertemu dengan putra bungsunya setelah sekian lama. Aku membayangkan situasi bakal sangat dramatis. Mungkin Ibu akan menangis seperti saat denganku kami belum lama ini. Namun apa yang kubayangkan tidak terjadi. Ibu hanya menatap Awan lekat-lekat, menyapunya dari ujung kaki hingga kepala namun tidak bicara sepatah kata pun.

“Awan,” aku menggamit lengan adikku. “Sapa Ibu.”

Awan tampak termangu di tempatnya.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kak,” Awan berkata. “Aku tidak siap dengan ini.” Ia lalu mundur beberapa langkah, berbalik, lalu setengah berlari menapaki tangga dan naik ke kamarnya.

Aku kembali menoleh kepada Ibu. Aku merasa khawatir kepadanya. Ia pasti merasa tertolak dengan sikap Awan barusan. Aku sangat kesal. Mengapa ia bersikap seperti itu kepada Ibu? Tidakkah ia merasa rindu? Tidakkah ia menginginkan Ibu kembali ke rumah setelah sekian lama? Apakah ia tak pernah dapat memaafkan Ibu? Bagaimanapun, Awan harus mendapatkan teguran. Bukan seperti ini perlakuan yang pantas Ibu terima darinya.

Saat aku berbalik dan hendak naik ke lantai atas untuk menyusul Awan, aku mendengar suara Ibu berkata, “Tunggu, Je. Ibu ikut.”

Aku berjalan di depan, menuju kamar Awan yang tertutup. Aku mengetuk pelan dan mendorong pintunya. Rupanya tak dikunci.

Aku melihat sosok itu terbaring di tempat tidur, memunggungi pintu. Beginilah cara Awan menunjukkan kemarahannya. Sejak kecil, setiap kali marah, ia selalu melakukannya. Dia bukan tipe anak kecil yang menangis keras untuk melampiaskan kekesalannya. Ia memilih menyelinap masuk ke kamar dan berbaring memunggungi pintu dan menolak bicara dengan siapa pun. Aku tidak tahu dari mana seorang balita belajar tentang hal itu.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Ibu menyusul masuk tak lama sesudahnya. Ibu tak ikut duduk bersamaku, melainkan memandangi seisi kamar, berjalan pelan memutari kamar, memeriksa sudut demi sudut, persis seperti saat ia pertama masuk ke kamarnya sendiri.

“Siapa yang membereskan ruangan ini?” Ibu bertanya.

“Aku dan Bude Warti,” aku menjawab. “Ibu menyukainya?”

Kamar Awan itu semula adalah ruangan yang dulu dimanfaatkan untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Setelah kepergian Ibu, ruangan itu kami sulap menjadi kamar tidur tamu karena beberapa kerabat sesekali datang berkunjung untuk menjenguk kami. Yang paling sering adalah Tante Cacha. Namun belakangan Awan sering memakai kamar itu karena dia tidak merasa sudah besar dan tidak mau lagi tidur dengan Ayah.

“Kamar ini sebenarnya diperuntukkan sebagai kamar tamu,” aku menjelaskan. “Kamar Kak Senja dan Bude Warti tetap di lantai bawah karena meraka harus menjaga Ayah. Aku pindah ke atas dan ruangan ini kami ubah jadi satu kamar lagi. Belakangan, Awan sering tidur di sini karena merasa sudah besar dan tidak mau lagi tidur dengan Ayah.”

Aku mendengar suara bergumam pelan.

“Ibu lihat sendiri kan, bagaimana Awan. Beginilah cara dia menunjukkan kemarahannya. Mengurung diri di kamar. Dia biasa melakukannya sejak kecil.”

“Awan anak yang baik,” gumam Ibu. “Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Dulu, waktu Awan tertabrak motor dan dilarikan ke rumah sakit….” suara Ibu bergetar, “dia juga tidak menangis.”

Aku mengangguk.

“Dia menahan tangisnya setiap waktu, sampai-sampai Ibu memintanya untuk menangis kalau memang dia merasa sakit. Tapi dia diam saja,” kenang Ibu.

“Awan selalu merindukan Ibu,” aku berkata. “Sejak Ibu pergi, dia selalu menanyakan Ibu.”

Ibu menatapku lekat-lekat. “Kenapa tidak kau ceritakan dari dulu tentang ini, Je?” suaranya lirih bertanya. “Seharusnya dari dulu Ibu tahu….” Ia meraih tanganku dan menggenggamnya.

Aku merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dan sikapnya.

Lihat selengkapnya