Aku termangu beberapa saat lamanya di muka pintu apartemen itu. Merasa ragu akan memijit belnya. Namun, akhirnya dapat kupaksakan diri untuk mengangkat jemariku. Memencet beberapa kali lalu melangkah mundur. Merunduk dalam-dalam. Memeluk tubuhku sendiri yang menggigil kedinginan.
Pagi ini, aku menolak berbicara dengan ibuku. Aku menolak bujukan Bude Warti untuk membukakan pintu kamar. Aku mengurung diri di kamar seharian, kalut dan tak tahu harus berbuat apa. Kuurungkan niatku berangkat ke kantor dan kumatikan ponsel sepanjang hari. Namun, di sore harinya, aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Memesan taksi online, menuju apartemen Damar. Aku bisa gila jika tidak melakukannya.
Helai-helai rambut basah terjatuh wajah. Ini pasti penampilan terburukku. Tapi di saat ini aku sedang tak ingin berpura-pura. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, seburuk apa pun itu.
Pintu terbuka. Aku menghitung dalam hati, dan di detik ketiga aku mendengar suaranya yang tertahan.
“Astaga, Jeje?”
Damar menarikku masuk, lalu buru-buru menutup pintu.
“Hujan deras sekali di luar sana. Kau baik-baik saja?” ia tampak sangat khawatir.
Di dalam, aku bahkan ragu untuk duduk di sofanya yang empuk dan bersih. Damar sesaat tampak bingung akan melakukan apa. Tetapi sejurus kemudian kesadaran membuyarkan lamunannya.
“Tunggu, aku akan carikan baju bersih.” Secepat kilat ia lenyap dari hadapanku, lalu kembali membawa handuk, kaus bersih, celana jogger, dan paper bag. “Kamar mandi di sana.” Ia menunjuk suatu sudut. “Ayo. Paper bag itu untuk mengemas bajumu yang basah.”
Setelah berganti baju bersih, aku merasa hangat dan lebih nyaman. Apalagi ketika keluar mandi, aku menghirup aroma kopi yang lezat. Damar menyambutku dengan senyum terkembang. Kopi hangat dan kue telah terhidang di meja.
“Terima kasih,” ucapku parau. Aku tak dapat mengingat kapan aku terakhir kali aku merasa diterima dengan tulus seperti ini.
“Ada apa, Je?” Setelah membiarkanku mengatasi kecanggungan dengan menyeruput kopi dan menyamankan diri di sofa, akhirnya Damar melontarkan tanya.
Aku menarik napas beberapa kali dan menghimpun keberanian untuk berbicara. Ya, aku harus bicara dengan seseorang yang aku percaya. Aku memang tidak pernah terlalu dekat dengan Damar selama ini. Bagiku, ia hanya bagian dari masa lalu. Teman dari SMA. Sesekali kami memang berkomunikasi, namun tak pernah terlalu intens. Hubungan kami hanya sebatas merawat kenangan. Namun, itulah pula mengapa aku merasa harus menemuinya. Hanya dialah teman yang cukup tahu tentang perjalanan hidupku, sampai di titik kami berpisah saat kami berpisah selulus SMA. Hanya dialah teman yang tersisa, yang paham saat patah dalam keluargaku terjadi, hingga saat ini. Kuharap ia dapat membantuku mengais ingatanku.
“Damar, ibuku sudah kembali,” aku memulai ucapanku.
“Oh ya?” Damar tampak terkejut. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Baik sekali. Kurasa. Tapi….”
“Tapi?”
Aku menarik napas. “Ibu pulih seiring waktu. Dia sangat stabil sekarang, menurutku. Tapi aku… aku justru mempertanyakan tentang diriku sendiri.”
Damar tertegun. “Maksudmu?”
“Damar, kau ingat, waktu itu, waktu ibuku dibawa pergi dari rumah? Ah, bukan. Lebih jauh lagi, apa kau ingat apa yang terjadi saat itu? Dengan… dengan adikku, Awan?” Dengan terbata aku memberanikan diri bertanya. Aku harus melakukan ini.
Damar menatapku beberapa saat. Kurasa dia sedang mengingat-ingat.