Menurut Damar, apa yang kualami ini sebenarnya adalah perasaan bersalah yang mengikis logikaku selama bertahun-tahun. Perasaan bersalah itu mendorongku melakukan denial. Aku tak menerima kenyataan bahwa Awan telah tiada. Terlebih lagi, aku mengingkari kenyataan bahwa Awan meninggal karena terjatuh di tangga sehabis kumarahi. Menurutnya awalnya aku mengalami delusi, namun mengapa itu berlangsung terus dan menetap, itu perlu dicari tahu penyebabnya.
Damar mengantarku pulang dan berjanji akan menemaniku menghadapi persoalanku. Aku merasa lebih ringan. Ia memberikan apa yang kubutuhkan: kenyamanan dan penerimaan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama memilih kesendirian, aku merasa membutuhkan sahabat, seseorang yang siap memahami.
Ibu sedang duduk di serambi saat aku memasuki gerbang rumah. Ia buru-buru berdiri saat aku mendekat. Wajahnya tampak cemas.
“Ibu menunggumu sejak tadi,” kata Ibu. “Kau dari mana saja? Ibu khawatir.”
Aku tertegun sesaat. Tak ada keinginan untuk mengindar darinya, aku duduk di kursi, di sampingnya.
“Ibu sudah makan?” aku bertanya.
“Ibu ingin makan bersamamu,” jawab Ibu dan duduk kembali.
Aku memandanginya sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke pangkuanku.
“Maafkan aku, Bu,” gumamku. “Aku sudah membuat Ibu khawatir.”
“Itu bukan salahmu, Nak. Ibu yang salah. Ibulah yang membuatmu jadi seperti ini.”
Aku menggeleng. “Aku yang salah.”
“Dengar. Bagaimana kalau kita berhenti menyalahkan diri sendiri dan memulai memperbaiki semuanya?”
Kalimat itu membuat hatiku mencelus.
“Apa masih bisa diperbaiki? Aku ‘sakit’ parah. Aku bahkan tidak yakin aku masih waras.”
“Siapa bilang? Kau sehat, kau waras. Kau yang paling kuat di antara kita. Semua pernah tumbang dan kau tetap tegak dan berhasil melewati masa-masa sulit kita, lebih dari yang lain.” Tangan Ibu terulur dan mengelus pundakku. “Tak ada yang perlu kau khawatirkan tentang dirimu. Kau baik-baik saja, dan akan tetap seperti itu.”
Aku memegang tangan Ibu, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Barangkali ini juga saatnya untuk memperbaiki hubunganku dengan Ibu.
“Ayo kita makan,” aku berkata.
Malam itu, setelah makan malam, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol di kamar Ibu. Tak mengungkit persoalan Awan, Ibu banyak bercerita pengalamannya saat berada di panti rehabilitasi mental.
“Mulanya Ibu takut berada di sana. Ibu lebih banyak menyendiri. Tapi, lama-kelamaan Ibu berusaha untuk mengenali mereka lebih jauh. Ibu berbicara dengan mereka. Ibu jadi tahu bagaimana mereka bisa berada di tempat itu. Kami mengobrol, tertawa bersama, menangis bersama… Banyak sekali yang bisa Ibu dapatkan dari orang-orang itu. Belajar memaafkan diri sendiri, adalah hal yang pertama kali Ibu tanamkan. Ibu sadar banyak sekali melakukan kesalahan. Perjalanan hidup yang berat, terlalu ingin segala sesuatu yang sempurna, dan menuntut orang lain sempurna, adalah kesalahan yang fatal. Ibu lalu banyak merenung. Dan dari segala kesalahan yang paling besar, Ibu merasa kesalahan Ibu kepadamu adalah yang paling tak termaafkan. Ibu banyak menuntutmu. Ibu selalu menyalahkanmu saat apa yang Ibu harapkan tidak Ibu dapatkan darimu. Ibu tahu pasti sangat berat rasanya buatmu, menjadi sasaran kemarahan Ibu dari waktu ke waktu. Kau tidak seharusnya memikul beban seberat itu, tapi entah, Ibu juga tidak tahu mengapa Ibu melakukannya terhadapmu.”
“Karena beban Ibu terlalu berat,” aku menjawab, “dan Ibu sendirian memikul beban itu.”
“Ibu sadar bahwa Ibu perlu bantuan, terutama sejak hamil Awan. Berjauhan dengan ayah kalian adalah masa-masa berat, di saat itu. Dan tanpa sadar, saat menjalani itu, Ibu melampiaskan segala penderitaan Ibu kepada kalian.”
“Kalian?”
“Kau dan Kak Senja.”
“Tapi Ibu tidak pernah memarahi Kak Senja, seperti Ibu memarahiku.”
“Tidak. Karena Ibu tahu Kak Senja tidak sekuat dirimu. Dia rapuh.”