Kadang aku merasa bahwa hidupku hanya ditopang oleh keberuntungan demi keberuntungan. Kebetulan demi kebetulan. Tak pernah benar-benar berprestasi di bangku sekolah, tetapi cukup mulus hingga menyelesaikannya. Kebetulan mendapatkan jurusan yang aku minati di bangku kuliah. Beruntung tak lama mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Beruntung tak termasuk yang di-PHK saat terjadi perampingan perusahaan, kendati namaku masuk di dalam list. Kebetulan-kebetulan lain yang menyelamatkan hidupku kadang membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya telah benar-benar kucapai dalam hidup ini.
Nyatanya, aku tak pernah benar-benar selamat. Keyakinan bahwa aku satu-satunya yang dapat bertahan ketika badai yang menerpa keluarga kami, rupanya salah sama sekali. Di antara semuanya, justru aku yang mengalami dampak yang terparah. Dan lebih buruknya lagi, aku tak pernah menyadarinya. Aku masih saja bangga dengan kekuatanku bertahan dalam badai. Padahal, setelah kini aku menyadarinya, bagaimana mungkin seseorang yang cukup waras bisa mengalami delusi selama belasan tahun bisa dianggap waras?
Mungkin aku terlalu lama sendiri. Aku tak punya sahabat. Aku tak punya pacar. Aku tak punya siapa pun yang dapat kujadikan tempat berbagi. Duniaku hanyalah rumah yang tertutup dari sinar matahari, orang-orang rumah yang dingin tanpa percakapan berarti, kantor sebagai tempat mencari uang, begitu saja bolak-balik. Indikasi kenormalan mungkin bisa diwaspadai dari sana. Jika kau tak merasa hidupmu yang datar itu sebagai rutinitas yang membosankan, kau mungkin sudah mati sebelum benar-benar hidupmu berakhir.
Keyakinanku bahwa Awan masih hidup, bahkan tumbuh bersamaku selama belasan tahun ini, itu adalah sakit yang harus kuobati. Namun, entah mengapa, setelah malam itu, Awan tak pernah muncul di hadapanku. Aku hanya sesekali melihat tirai kamarnya mengersik, atau sesuatu melintas dalam pikiranku, tetapi sosok Awan tidak pernah benar-benar muncul. Apakah permainan pikiran ini telah selesai dengan begitu tiba-tiba?
“Kurasa kau harus mencari tahu mengapa sampai belasan tahun kau mengalami ini.” Terngiang di telingaku ucapan Damar malam itu. “Selain mungkin karena kau selalu sendirian, mungkin ada sesuatu yang terus memupuk keyakinanmu bahwa Awan masih hidup, bahkan tumbuh bersamamu.”
Aku tercenung.
Memupuk keyakinan?
Apa yang membuat keyakinanku terus ada bahwa Awan masih hidup? Dengan siapa aku sering berbicara? Kak Senja sudah lama tidak tinggal di rumah kami lagi. Komunikasi kami terbatas pada pesan WA dan sesekali video call. Pembicaraan kami hanya berkisar tentang Ayah, sesekali membincangkan Ibu, dan lebih sering hal-hal tentang diri kami. Aku nyaris tidak pernah banyak mengobrol dengan Ayah. Komunikasi kami kaku, bukan hanya karena Ayah masih kesulitan bicara semenjak terkena stroke, tetapi karena secara emosi kami berjarak. Satu-satunya yang sering mengobrol denganku adalah Bude Warti. Sejak Ibu meninggalkan rumah, dialah yang menggantikan posisi Ibu. Praktis peran Ibu digantikan olehnya. Mulai dari semua pekerjaan rumah, hingga menemani belajar, mengurusi segala keperluan kami, sampai merawat Ayah. Bude Warti pulalah tempat kami berkeluh kesah. Ia adalah pendengar yang baik, meski tentu saja tak akan pernah dapat menggantikan posisi Ibu di hati kami. Kepada Bude Warti pulalah, tentu saja, aku sering menyebut-nyebut Awan. Dan reaksi dia?
Aku mengingat-ingat.
Bude Warti tidak pernah menyangkal saat aku bercerita kepadanya seolah-olah Awan masih hidup. Ia bahkan sangat antusias dalam merespon segala ucapanku. Dia bahkan membuatku makin yakin bahwa Awan selalu ada bersama kami.
Kilasan-kilasan ingatan itu berkelebat di kepalaku.
Aku ingat bahwa kedatangan sosok Awan selalu dimulai dengan demam tinggi yang kualami. Saat aku mengalami demam tinggi itulah, biasanya, Awan akan muncul. Nyata, seperti benar-benar ada. Dia seakan dapat kusentuh, dan selalu menjadi bagian dari kehidupan yang kami jalani. Dia bicara, makan, bermain, sekolah, mengerjakan Pe-Er, lulus SMA, masuk kuliah, dan seterusnya. Aku tidak tahu apakah ada yang menjejalkan skenario tentang Awan di kepalaku, atau aku sendiri yang mengarangnya dan mendapat dukungan sehingga aku merasa yakin akan kebenarannya. Ini memang rumit. Aku hampir tidak selalu bisa mengendalikan pikiranku. Sampai di titik itu, aku merasa sangat yakin bahwa aku butuh pertolongan. Aku harus menghubungi Tante Cacha. Namun, di sisi lain, aku ingin menguak rahasia ini sendiri. Aku ingin tahu apakah aku yang mengakibatkan semua ini terjadi, atau adakah pihak lain yang menginginkan ini terjadi. Jika yang terakhir, apa tujuannya?
Aku mengingat sepenggal-sepenggal pembicaraanku dengan Bude Warti, menghubungkan satu petunjuk dengan petunjuk lainnya dan menemukan keterkaitan yang aneh. Aku sendiri ragu menyimpulkan. Bude Warti adalah sosok yang sederhana, nyaris tak kulihat ada kedengkian di dalam dirinya. Namun, kini aku sendiri meragukan keyakinanku tentang wanita itu. Apakah Bude Warti sebenarnya adalah wanita cerdas dan berbagai rencana licik di benaknya? Apakah ia sedang melakukan sesuatu selama belasan tahun ini? Mengapa dari beberapa ingatan yang berhasil kukumpulkan tentang percakapan kami tentang Awan, selalu memperlihatkan dukungannya kepadaku tentang keberadaan Awan?
“Mas Awan sedang sakit.” Aku teringat saat itu, ketika Bude Warti keluar dari kamar Awan dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia lantas meletakkan telunjuk di bibirnya. Aku yang baru pulang sekolah, masih dengan seragam sekolah, mundur menjauhi kamar. Lalu menyelinap ke kamarku sendiri.
Di saat lain, di tengah malam, aku menemukan Bude Warti sedang memasak mi instan di dapur. “Mas Awan baru saja datang. Dia minta dibuatkan mi rebus,” katanya saat aku bertanya untuk siapa dia memasak.
Belum lama berselang, Bude Warti membuatku yakin bahwa Awan sudah jarang datang karena sedang mengerjakan tugas akhirnya. “Mas Awan kuliahnya sudah mau rampung, jadi bakalan jarang pulang. Begitu katanya kepada Bude kemarin.”
Sugesti-sugesti itu diberikan selalu di saat kondisiku sedang tidak fit sehingga logikaku tidak dapat mencerna dengan baik. Aku kemudian menelan begitu saja ucapan Buda Warti dan otakku memprosesnya sebagai suatu kebenaran. Bahwa Awan masih ada, hidup, tumbuh, dan ada bersama kami. Dan itu berlangsung selama belasan tahun.
Bahwa aku pernah mengalami halusinasi, itu memang benar. Namun, Bude Warti tahu dan sengaja memanfaatkannya hingga menjadikannya delusi. Aku meyakini sesuatu yang tidak pernah ada!
Sinting!
Aku meraih ponselku. Melakukan pencarian melalui Google tentang kondisi yang kualami dan menemukan suatu petunjuk yang mengagetkan. Semua ini mengarah pada gejala delusi persisten. Dan orang yang menggiringku ke tubir ini adalah… Bude Warti? Orang kepercayaanku selama ini?
***
Mungkin, satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini hanyalah Damar. Dia memahamiku karena pernah ada di bagian masa laluku saat itu, tetapi berada di luar lingkungan keluarga, sehingga pandangannya bisa jadi netral. Beberapa waktu belakangan ini, aku mulai merasa membutuhkan dia, membutuhkan dukungannya, membutuhkan bantuannya untuk menyusun kepingan-kepingan pasel masa lalu, sehingga menggenapkan ingatanku. Damar, di sisi lain pun memberikan perhatian yang kubutuhkan. Dia mengkhawatirkan aku. Sesuatu yang sulit kutemukan pada diri orang lain, yang terus memercayai ilusi bahwa aku perempuan independen yang tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Damar memunculkan sisi feminin dalam diriku. Aku bisa curhat, aku bisa menangis, aku bisa bicara apa pun kepadanya tanpa takut dianggap lemah. Sangat memahami situasiku, ia terus memantauku dari waktu ke waktu, sekadar menanyakan apakah aku baik-baik saja, mengingatkanku makan dan minum obat, menanyakan ada perkembangan apa di rumah, dan apakah Awan kembali “datang” ke rumah. Anehnya, setelah Damar mengungkapkan kenyataan tentang Awan, adikku itu belum datang lagi menjumpaiku. Aku tidak tahu apakah ini indikasi baik atau hanya karena kondisi mentalku sedang baik-baik saja.
Damar mengirim pesan WA siang itu. Dia bilang ada yang ingin dia diskusikan denganku. Kami janji berjumpa sore hari, selepas jam kantor, di kafe lantai bawah gedung perkantoran ini. Ia sudah menungguku ketika aku tiba di sana. Tatapannya yang tulus menyapu wajahku begitu aku duduk di hadapannya.
“Semua berjalan baik hari ini di kantor?” ia bertanya.
Aku tersenyum. “Kurasa begitu. Situasi sudah kembali normal.”
Damar mengangguk, lalu menyesap kopinya. Aku meletakkan tas tanganku di meja, pergi untuk memesan affogato coffee dan onion ring, lalu kembali kepadanya.