Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #13

Dari Hati ke Hati

Hari Jumat sore, Budhe Warti benar-benar pamit untuk pulang beberapa hari ke desanya. Aku merasa itulah saatnya aku bergerak untuk mencari petunjuk. Aku akan memulai menelusuri benang merah semua persoalan ini. Pradugaku bisa jadi keliru, tapi setidaknya aku akan mencari keyakinan atas semua itu. Dan aku akan memulainya dari Ayah.

Malam itu, aku melihat Ayah duduk di pinggiran tempat tidur, memandangi Ibu yang tertidur pulas. Lelaki itu memandanginya dengan lekat sembari mengelus-elus dahinya. Kutahan airmataku yang hendak tumpah melihat pemandangan indah itu.

Sejurus kemudian, aku memberanikan diri membuka lebih lebar pintu kamar yang terbuka. Ayah menoleh menatapku.

“Jingga?”

Bahkan artikulasi Ayah mulai membaik. Ucapannya terdengar jauh lebih jelas di telinga.

Aku buru-buru menghapus airmataku yang mendadak bergulir jatuh.

“Ibu sudah tidur, ya?” aku pura-pura bertanya.

Ayah berdiri dari pinggir tempat tidur dan melangkah mendekatiku dengan tertatih.

Ia berdiri di dekatku lalu membalikkan tubuhnya menghadap tempat tidur.

“Iya. Dia sudah tidur,” ucapnya terbata. “Lihat, dia cantik sekali, kan?” Telunjuknya gemetar mengarah kepada Ibu. Ia memandangi ibuku dengan sorot mata yang tak dapat kugambarkan dengan kata-kata. Penuh rasa cinta. Sesaat kemudian, Ayah baru berbalik ke arahku.

“Kau belum tidur?”

Aku menggeleng. “Aku… sebenarnya, ingin bicara dengan Ayah.”

Ayah menunjuk dadanya dengan raut bertanya-tanya. Aku mengangguk. Kuraih tangan Ayah.

“Ayah, kita bicara di ruang tengah saja ya, biar tidak mengganggu Ibu?”

Ayah mengangguk setuju.

Berbincang panjang dengan Ayah adalah hal yang sangat jarang kulakukan. Mungkin karena selama ini alam bawah sadarku menganggap Ayah punya kontribusi terbesar dalam menciptakan lubang besar dalam keluarga kami. Karena menurut anggapanku, ketiadaan Ayahlah yang menjadi sebab semua peristiwa ini terjadi. Ayah adalah sosok keras hati, egois, yang hanya memikirkan kariernya dan mengesampingkan kami: Ibu, aku, Kak Senja, dan Awan.

Aku memutar otak sejenak, berusaha berpikir dari mana aku harus memulai.

“Ayah, maaf harus bertanya soal ini.” Aku menelan ludah, kata-kata itu masih tersekat di tenggorokan dan tak berhasil kukeluarkan. Ayah menatapku penuh tanda tanya di wajahnya.

“Anu, itu… soal…” Aku menggaruk kepalaku yang mendadak terasa gatal. Ah, apakah aku benar-benar harus menanyakan soal ini kepadanya? Aku bahkan tak dapat meyakini apa pun lagi sekarang. Aku khawatir ini merupakan bagian dari delusiku yang lain. Jangan-jangan pikiranku telah mempermainkanku selama ini.

“Kulihat Ayah sudah jauh lebih sehat.” Kalimat itu akhirnya yang meluncur dari bibirku,

“Iya, lebih sehat,” Ayah mengiyakan. Matanya berbinar gembira. “Karena Ibu sudah pulang.” Ia mengangguk-angguk seperti anak kecil.

Aku tertawa. “Syukurlah.”

“Kita sudah bersama-sama lagi,” Ayah menambahkan. “Itu sudah cukup. Ayah sudah sehat. Ibu sehat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”

Senang sekali mendengar Ayah bicara lebih panjang-lebar daripada sebelumnya. Kemajuan ini cukup pesat dan mengagetkan. Ya, Ibu belum sebulan kembali ke rumah, tetapi dia sudah mengubah banyak hal di rumah ini. Seperti kata Ayah, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

“Banyak hal yang terjadi selama ini,” aku kembali berupaya menyusun kata-kata. “Dan sangat berat buat kita. Aku tidak menyangka kita bisa sampai sejauh ini. Ini karena Ayah telah menjadi sosok yang tangguh buat kami. Ayah tak pernah menyerah.”

Lihat selengkapnya