Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #14

Kehilangan

Ayah harus dirawat inap malam itu. Aku menungguinya selama beberapa jam, sampai kondisinya lebih stabil. Damar menawarkan diri untuk menunggui Ayah malam itu dan menyuruhku pulang. Suatu hal yang sangat membantu meringankanku saat itu.

“Di rumah tidak ada orang selain Ibu, dan kau harus menjaganya,” Damar berkata. “Jangan khawatir. Aku akan menunggui ayahmu di sini.”

“Aku takut sekali,” desisku. “Kalau sampai terjadi apa-apa pada Ayah, itu semua salahku. Aku tak seharusnya menyudutkannya seperti itu.”

Damar menepuk pelan pundakku. “Ayahmu akan baik-baik saja. Kata Dokter, ayahmu hanya terkejut, sehingga memicu hiperventilasi. Dia akan segera pulih setelah beristirahat nanti. Tadi kami juga sudah sempat berbicara. Ayahmu setuju kalau aku yang menemaninya malam ini, sedangkan kau pulang untuk menjaga Ibu.”

Aku menatapnya terharu. Untuk kesekian kalinya, Damar menunjukkan bahwa ia adalah teman yang bisa diandalkan. “Terima kasih, Damar,” bisikku. Dia tersenyum.

 

***

Aku terlebih dulu memastikan Ibu sudah tidur sampai akhirnya aku kembali ke kamarku sendiri. Akhirnya, aku bisa meletakkan kepalaku di atas bantal. Tubuhku terasa letih dan hatiku berkecamuk. Setelah beberapa saat lama hanya bisa membolak-balikkan tubuh di tempat tidur, akhirnya kesadaranku berangsur tenggelam dalam pusaran mimpi.

Aku terjaga dalam keremangan. Aku berada di lorong itu lagi. Dengan cahaya lampu kecil yang menempel di dinding kanan-kiri. Nyala apinya berpendar-pendar tertiup angin. Lembap udaranya membuatku menggigil. Aku melangkah tanpa alas kaki. Telapak kakiku menyentuh lantai ubin berlumut yang licin. Beberapa kali nyaris tergelincir, aku kembali melangkah dengan pijakan yang makin kukuatkan.

Lihat selengkapnya