Sudah tiga hari Ayah dirawat di rumah sakit, dan selama itu, Budhe Warni belum juga kembali dari desa. Aku mulai bertanya-tanya apakah dia memang berniat tidak akan kembali. Herannya, ponselnya juga tak dapat dihubungi, seakan dia memang menghindari komunikasi. Budhe Warti tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kendati sedang cuti, dia mudah dihubungi di mana pun berada. Komunikasi kami tetap berjalan. Bahkan di grup keluarga Budhe Warti selalu memantau dengan menanyakan situasi di rumah saat dia tinggalkan. Kini, bahkan untuk sekadar mengabari Ayah masuk rumah sakit pun tak bisa kulakukan. Pesanku melalui WA tidak terkirim kepadanya. Hanya meninggalkan tanda centang 1 yang tidak juga berubah selama tiga hari dia pergi.
Apakah Bude Warti hanya sekadar belum mengisi kembali kuotanya? Apakah mungkin percakapan kami yang terakhir telah membuatnya begitu ketakutan sehingga dia pilih menghindari komunikasi? Atau, dia memang sudah berencana untuk tidak akan kembali?
Aku sudah menelepon Kak Senja, tetapi karena kesibukannya, dia belum bisa pulang kali ini. Jadilah aku yang mengurus Ayah bolak-baik di rumah sakit. Pak Indro sempat sekali menjenguk ke rumah sakit, tetapi sayangnya kami tidak sempat bertemu. Damarlah yang kebetulan sedang menunggu Ayah. Untuk sementara, aku menyingkirkan kecurigaanku kepada Pak Indro demi fokus mengurus Ayah.
Untungnya, Ibu cukup bisa diandalkan. Ibu mengurus rumah selama aku menjaga Ayah di rumah sakit. Ia membersihkan dan merapikan rumah, memasak dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas, ia juga cukup tenang sehingga tak membuatku khawatir. Pendeknya, Ibu telah “berfungsi normal”, seperti yang dikatakan oleh Tante Cacha. Meski tak segesit belasan tahun lalu, tetapi apa yang bisa ia tangani melebihi ekspektasiku. Itu suatu hal yang terus-menerus aku syukuri.
Malam itu, ketika Ayah akhirnya kembali ke rumah, Ibu sudah siap menyambutnya dengan penuh cinta. Untuk sementara aku bisa menyerahkan urusan Ayah kepada Ibu, sementara aku masuk ke kamarku sendiri karena sangat butuh istirahat.
Aku sudah membaringkan tubuhku di tempat tidur dan mulai memejamkan mata, ketika ponselku berdenyit. Tanganku meraba nakas di samping tempat tidur, meraih ponsel. Memandangi layarnya dan melihat sederet angka di sana. Nomor tak dikenal. Aku menimbang-nimbang. Aku tidak pernah mau mengangkat telepon dari nomor yang tak kusimpan di ponselku. Menurutku, jika orang yang menghubungiku memang punya kepentingan, dia akan menghubungiku melalui pesan teks jika teleponnya tidak diangkat. Aku meletakkan ponselku, setelah benda itu berhenti berdenyit, di samping tubuhku. Beberapa saat kemudian, ponselku berbunyi lagi. Nomor yang sama. Aku kembali membiarkannya berhenti dengan sendirinya. Ketika benda iu berbunyi untuk ketiga kalinya, aku memutuskan untuk menolak panggilan, lalu mematikan ponselku. Kali ini, benar-benar berusaha tidur.
Ketika terbangun keesokan harinya, hal pertama yang kulakukan adalah menyalakan ponselku. Aku memeriksa pesan WA yang masuk. Dari beberapa pesan, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Sebuah pesan dengan nomor yang belum aku simpan.
“Mbak, ini Bude Warti. Maaf baru menghubungi. Bude mau pamit. Bude nggak bisa kembali lagi ke rumah Mbak Senja. Bude banyak sekali salah pada keluarga. Sampaikan maaf Bude pada Ayah dan Ibu. Barang-barang Bude masih ada di sana, kapan-kapan saja Bude ambil. Terima kasih, Mbak.”
Aku tertegun tak percaya, dan tiba-tiba menyesali keputusanku tidak mengangkat telepon semalam. Aku mencoba menghubungi nomor itu melalui telepon, tetapi tidak bisa. Nomornya tidak aktif.
Aku turun ke lantai bawah. Aroma roti panggang yang sedap menggelitik hidungku. Aku bergegas menuju dapur dan menemukan Ibu dengan celemeknya, tengah menghidangkan secangkir teh untuk Ayah.
“Selamat pagi, Nduk,” Ibu menyapaku dengan wajah berseri. Refleks aku menoleh ke jam dinding.
“Masih pagi sekali,” aku berkata. Baru pukul enam.
“Sarapanlah dulu bersama kami,” kata Ibu.
“Tapi, aku…”
“Duduklah sini,” Ayah turut memaksa.
Akhirnya, aku menarik kursi dan duduk di samping Ayah.
“Ibu buatkan teh?” Ibu menawarkan.
“Boleh.”
“Rotinya sebentar lagi matang,” kata Ibu. “Ibu membuatkan roti panggang selai coklat untuk Ayah. Jingga mau selai apa?”
“Coklat juga,” sahutku. Aku mengamati gerak-gerik Ibu yang lincah. Masih sulit percaya dengan penglihatanku, bahwa kemajuan Ibu sudah sepesat ini.
“Bude Warti kenapa belum kembali juga, ya?” Tiba-tiba Ibu mencetus, mengingatkanku pada tujuanku semula turun ke lantai satu. Pergi ke kamar Bude Warti.
“Pagi ini, aku menemukan pesan WA Bude Warti,” aku menyahut. “Bude Warti pamit. Dia nggak akan kembali lagi.”
“Lho, kenapa?” Ayah terkejut.
“Bude tidak menyebutkan alasannya.”
“Mungkin Bude Warti sudah capek,” kata Ibu. “Atau karena Ibu sudah kembali?”
“Tapi bukan begitu juga,” gerutu Ayah. “Memangnya kalau Ibu sudah kembali lalu dia merasa tugasnya sudah ada yang ambil alih?”
“Bude Warti tidak seperti yang Ibu kenal dulu,” Ibu berkata lagi. Kali ini ia menghidangkan teh di hadapanku.
“Makasih, Bu.”
“Maksud Ibu?” sergah Ayah.
“Bisa jadi ini cuma perasaan Ibu, tapi Bude Warti seperti canggung dengan Ibu. Lalu, dari nada bicaranya, cara dia bicara dengan Ibu… seperti agak kurang menyukai Ibu.”
Aku tergelitik mendengarnya. Apakah selama belasan tahun Ibu pergi, Bude Warti merasa telah menggantikan kedudukan Ibu di rumah ini? Apakah dengan kembalinya Ibu dia merasa kedudukannya tergeser? Apa ini ada kaitannya dengan Ayah? Dengan penjualan aset-aset itu? Apa yang selama ini Bude Warti pikirkan sebenarnya?