Sebenarnya, sudah sejak beberapa hari lalu aku berencana untuk menghubungi Tante Cacha. Aku ingin menceritakan kondisiku dengan sejujurnya kepadanya. Aku sangat ingin tahu pendapatnya tentang apa yang aku alami. Namun, karena kesibukanku, aku belum sempat meneleponnya. Penemuan foto di lemari Bude Warti membuatku harus melakukannya dengan segera. Aku pun meneleponnya, menceritakan secara singkat kondisiku dan penemuanku tentang Bude Warti. Namun ternyata Tante Cacha tidak terlalu kaget mendengarnya, dan itu tak seperti yang kubayangkan.
“Sabtu besok Tante akan ke Jogja,” ia berkata. “Kita akan bicara banyak.”
Dan benar saja, Tante Cacha sudah muncul di hari Sabtu, sebelum tengah hari. Hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa keadaan Ibu. Ia tampak senang melihat kemajuan Ibu. Apalagi melihat kesehatan Ayah yang juga berangsur membaik. Menurutnya cinta merekalah yang telah mempercepat pulihnya kondisi keduanya. Ya, akhir-akhir ini aku melihat mereka makin harmonis saja. Ibu mengambil alih peran Bude Warti untuk mengurusi Ayah. Mulai dari menyiapkan baju, menyiapkan makan, membuatkan susu, sampai menonton tivi atau mengobrol berdua. Aku paham, ada luka dan kekecewaan di antara mereka berdua karena apa yang pernah terjadi di masa lalu. Namun kurasa mereka berdua telah bersepakat untuk memperbaiki hubungan.
Setelah selesai memeriksa keadaan Ibu dan mengobrol dengan Ayah, Tante Cacha mengajakku menjauh untuk berbicara denganku. Kami memutuskan untuk berbicara di gazebo depan rumah sambil menikmati teh dan kue, serta semilir angin.
“Sebenarnya Tante sudah tahu kondisimu sejak lama,” Tante Cacha memulai bicara.
“Dari mana Tante bisa tahu?”
“Ibumu,” Tante Cacha mengangguk. “Dia cerita kepada Tante, bahwa kau sering kali bercerita tentang Awan, seolah-olah Awan masih hidup, bahkan tumbuh dewasa, kuliah, dan seterusnya. Dia sangat mencemaskanmu.”
“Apa Tante tidak khawatir? Menurut Tante ini tidak berbahaya? Aku mengalami delusi selama belasan tahun.”
“Tentu saja Tante khawatir, tapi Tante melihat kau cukup kuat. Itulah juga alasan Tante sering berkunjung kemari beberapa waktu lalu, untuk memastikan keadaanmu. Sejauh yang Tante lihat, tidak perlu khawatir berlebiha terhadapmu. Kondisi tidak akan bisa lebih buruk lagi, sampai…”
“Sampai apa?”
“Sampai Tante mengetahui sesuatu, yang mungkin sudah cukup terlambat.” Tante Cacha menghela napas dalam-dalam. Tangannya terulur, mengelus lenganku. “Kau masih ingat, mungkin, waktu Tante membawa Bude Warti kemari?” ia tampak mengingat-ingat. “Setelah Awan lahir, Tante membawanya kemari karena ibumu sangat memerlukan bantuan. Kondisi mental ibumu sudah sangat mengkhawatirkan saat itu. Dengan adanya Bude Warti, setidaknya, ada seseorang yang bisa membantu menopang ibumu secara fisik, agar ia bisa berkonsentrasi dengan kesehatan mentalnya. Tante memilih Bude Warti karena dia orang yang baik dan jujur. Tante mengenalnya dengan cukup baik karena dia adalah tetangga Tante di desa. Bude Warti seorang janda dengan satu anak, yang ditinggalkan suaminya dalam keadaan tak punya apa-apa. Dia, bersama anaknya, hidup menumpang di rumah orangtuanya yang juga miskin. Karena iba kepadanya, Tante menawarkan pekerjaan sebagai pembantu di keluarga kalian. Bude Warti bersedia. Dia menitipkan anaknya kepada orangtuanya. Setelah Awan meninggal, dan ibumu masuk panti rehabilitasi mental, Tante sempat menanyakan lagi apakah Bude Warti akan berhenti bekerja atau tidak. Mungkin ada kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman bekerja kepada majikan lelaki yang ditinggalkan istrinya dalam waktu lama untuk pengobatan. Tapi dia bersikukuh untuk terus bekerja. Saat itu, Tante sangat bersykur karena dia masih mau mengurusi kalian, kau dan Kak Senja. Apalagi kemudian, kesehatan Ayah kalian drop karena stroke. Bude Warti setia, sangat mengabdi, dan Tante kagum kepadanya. Yang mungkin kau belum tahu, anak Bude Warti kemudian menjadi anak asuh Tante. Dia Tante kuliahkan, hingga kemudian bekerja sebagai perawat di panti rehabilitasi Tante. Lalu, secara khusus Tante tugaskan untuk merawat ibumu.”
Sampai di sini, Tante Cacha tampak gelisah. Ia mencoba menutupinya dengan meraih cangkir teh di hadapannya dan menghirup isinya perlahan. Beberapa saat ia tampak menyusun kata-kata.
“Tante rasa, di sinilah letak kesalahan Tante. Tante terlalu memercayai mereka sehingga tidak sadar mereka sedang merencanakan sesuatu.”
“Mereka siapa, Tante? Rencana apa?”