Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #17

Saat yang Tepat

Aku memutuskan untuk memeriksa kembali kamar Bude Warti. Ada satu kotak besi yang harus dibongkar. Hari itu, Damar kembali dengan membawa peralatan yang lebih memadai, untuk membuka benda itu. Kami pun menjalankan rencana itu dengan disaksikan oleh Tante Cacha, serta Ayah dan Ibu yang telah sedikit mendapatkan informasi tentang situasi yang ada. Saat kotak terbuka dan Damar mengeluarkan satu per satu isinya, dan semua orang terperangah dibuatnya.

Ada beberapa kantung plastik berisi serbuk, satu amplop besar berisi uang dalam beberapa bendel dengan jumlah setiap bendelnya lima juta, beberapa buku tabungan yang salah satunya adalah tabungan deposito atas nama Ayah, dan satu map berisi berkas dan sertifikat rumah… atas nama Ayah—sertifikat rumah ini. Kami lemas sejadi-jadinya.

Jadi selama belasan tahun, ini yang dilakukannya? Menggerogoti kami dari dalam? Memanfaatkan kelemahan kami demi menangguk keuntungan dirinya? Bersikap manis di hadapan kami namun menikam dari belakang?

“Sudah kuduga,” gumam Tante Cacha. “Aku akan menghubungi petugas yang menangani kasus Asqi.” Ia kemudian berjalan menjauh dari kami dan menelepon.

Damar membereskan benda-benda itu, mengembalikannya ke dalam kotak. “Kita harus menyimpannya baik-baik. Ini barang bukti,” ujarnya. Aku mengangguk. Kami mengangkut benda itu ke kamarku.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berkumpul di ruang tengah. Suasana tak pernah semencekam itu sebelumnya. Ibu terus mengelus tangan Ayah untuk menenangkannya. Kulihat ia memang sangat terpukul. Bagaimana tidak, setelah sekian lama berinteraksi dengan Bude Warti, diurusi segala keperluannya, ia benar-benar tak menyangka bahwa ada niatan lain di hati wanita itu kepada keluarga kami.

Tante Cacha memastikan semua telah ditangani. “Petugas kepolisian dari Magelang akan datang. Jika tidak nanti malam sampai, mungkin besok pagi baru berangkat,” ia berkata. Aku menghela napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Rasa lelah merayap-rayap di sekujur tubuhku. Perutku mulai terasa lapar. Mendadak aku ingat bahwa aku belum menyiapkan makan siang.

“Oh ya, Tante mau makan apa?” aku bertanya. “Bagaimana kalau aku pesankan makan siang saja? Rasanya sudah tidak ada waktu lagi buat masak.”

“Apa saja,” jawab Tante Cacha. “Yang penting Ayah dan Ibu. Tante apa saja mau.”

Aku segera memesan makan siang pilihan Ayah dan Ibu melalui aplikasi ojek online. Setelah itu aku menggamit lengan Damar.

“Aku mau keluar dari sini dulu,” bisikku kepadanya. “Sesak sekali rasanya. Aku perlu udara segar.”

Damar mengangguk setuju.

“Epic Coffee?” bisiknya.

Aku balas mengangguk.

 

Keluar dari rumah, aku merasa seperti terbebas dari kungkungan. Sesak sekali di rumah, setelah semua yang terjadi. Aku masih belum menerima kenyataan bahwa Bude Warti telah mengkhianati kami selama ini.

Peristiwa demi peristiwa yang kualami telah melenyapkan keyakinanku pada apa pun.

Jika orang yang sangat kau percaya pun bisa berkhianat, bagaimana kau bisa menaruh keyakinan terhadap sesuatu?

Mobil Damar memasuki pelataran parkir. Hujan mulai turun rintik-rintik. Kami berlari kecil memasuki kafe itu. Memilih di bagian dalam, tentunya. Tanpa banyak bicara kami segera memesan minum dan makanan.

Damar dan aku larut dalam alam pikiran masing-masing. Aku sibuk merunut kembali apa yang telah terjadi dalam hidupku. Hingga detik ini, ternyata, aku belum memasuki fase yang benar-benar baru. Masih berputar pada titik yang sama.

“Apa definisi bahagia menurutmu?” gumamku.

“Hmm?” Damar mengangkat wajahnya. Tatapan kami bertemu. Wajahnya tampak lebih pucat. Aku belum pernah melihatnya begitu. Apakah dia terpengaruh dengan kejadian di rumah kami tadi? Apakah ia syok berada di lingkaranku? Mungkinkah hidupnya yang terlalu mulus membuatnya kaget mendapati kejadian sedramatis itu?

“Kau bahagia dengan hidupmu, Damar? Dengan keluargamu?”

Damar menarik napas.

“Setiap keluarga punya kisahnya sendiri, Je,” ia berkata lembut. Suaranya seperti datang dari awing-wang. “Keluarga adalah tempat kehidupan kita bermula. Bagaimana kita dibentuk dan ditempa. Orangtua kita tak mungkin menginginkan anak-anaknya terluka. Namun, ada hal-hal yang di luar kemampuan dan kendali mereka. Kita jadi tidak bahagia jika kita hanya mengingat derita. Coba kau ingat sisi indahnya.”

Lihat selengkapnya