Kini aku merasa lebih yakin dengan diriku. Aku tidak akan merasa sendirian lagi menjalani hidupku. Damar telah mengulurkan tangannya. Aku belum sepenuhnya yakin, tetapi aku terus mengingat bahwa selama aku berteman dengannya, Damar sosok yang teguh pada janjinya.
“Terima kasih sekali lagi,” ucapku begitu mobil berhenti di depan rumah.
“Aku akan pulang dulu,” kata Damar. “Jika nanti kau butuhkan aku, telepon saja. Ada beberapa pekerjaan yang harus kubereskan.”
“Kata Tante Cacha, nanti malam petugas akan datang. Atau mungkin besok.”
“Kabari saja,” Damar berkata lagi. “Aku akan datang.”
Mobil Damar belum juga bergerak bahkan saat aku memasuki gerbang rumah. Kurasa ia akan memastikan aku masuk dengan aman ke rumah. Aku melambai kecil lalu berbalik menuju rumah, menggunakan tas tanganku untuk menutupi kepala dari hujan.
Sepi. Aku melirik arloji. Hampir pukul lima. Di senja hujan begini, rumah tampak gelap karena lampu-lampu belum dinyalakan. Aku tertegun sesaat di depan pintu yang terbuka.
“Ibu!” aku memanggil dengan hati-hati. “Ayah!”
Tak ada sahutan. Aku melangkah masuk. Menyalakan lampu di ruang tamu.
“Tante Cacha!”
Samar aku mendengar suara-suara. Tetapi kemudian diam. Jantungku mulai berdetak kencang. Aku melangkah lebih waspada. Aku mendengar suara-suara lagi, dan kini arahnya lebih jelas. Dari kamar Ayah. Kunci tergantung di bagian depan. Dari dalam terdengar suara-suara teriakan teredam. Aku bergegas membuka kuncinya dan menemukan pemandangan yang membuatku terbeliak. Ayah dan Ibu terikat di sudut ruangan. Mulut mereka dibungkam lakban. Aku bergegas menghampiri mereka dan melepaskan lakban yang menutup mulut kedua orangtuaku dan menbuka ikatannya.
“Jeje, syukurlah kau pulang,” ucap Ibu lemah.
“Bu? Apa yang terjadi?”
“Mereka di atas, Je.”