Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #19

Benang Merah

Pekat mengepungku dari segala penjuru. Aku berusaha menajamkan pandanganku tetapi sia-sia belaka. Kepalaku terasa berdenyut-denyut. Samar-samar kudengar suara dari tempat yang sangat jauh. Kadang seperti derum kendaraan, kadang serupa roda yang menggilas jalanan berkerikil, kadang semacam langkah berderap, sesekali ditingkah percakapan absurd yang seakan datang dari dunia lain.

Hawa dingin menyergap, membuatku menggigil sesaat. Tubuhku terasa kuyup dan udara di sekelilingku lembap. Tanah di sekitarku terasa miring. Aku menggeliat, berusaha melepaskan ikatan di tubuhku. Ikatan itu tidak terlalu kencang, mungkin telah mengendur akibat benturan-benturan di jalan. Dalam duduk, aku berusaha lebih keras; mengerut, meringkuk, mengempiskan perut. Ikatan itu makin lama makin mengendur. Kain itu lebih mudah tertarik ke bagian atas, maka dari itu aku berusaha sekuat tenaga mendorongnya ke bagian dada, naik sedikit ke leher. Seiring dengan itu, tanganku mulai terbebas dari belenggu dan aku berhasil meloloskannya dari tubuhku. Aku menarik keluar kain yang menyumpal mulutku.

Aku menghela napas lega. Dengan hati-hati aku meraba sekitarku. Tanah dan rumput basah, akar pohon, bebatuan, lumut… Aku berada di mana? Jurang?

Perlahan aku berusaha berdiri, tetapi pijakanku terlepas. Aku merosot jatuh. Anehnya, jatuh itu terasa lama. Terlalu lama untuk sebuah kematian yang seharusnya cepat. Di sela-sela jatuh, ingatan bermunculan tanpa diminta. Potongan suara, wajah-wajah yang pernah memanggil namaku, genggaman lembut di meja kafe. Serupa ingatan sepenggal-penggal yang bermunculan seiring tubuh yang terus turun dan pikiran yang mencari pegangan.

Aku serupa Alice di Negeri Ajaib yang meluncur ke dalam lubang tanpa dasar.

Beginikah rasanya dihapus dari dunia?

Aku mencoba menghitung detik, seperti Alice membayangkan pusat bumi, tapi angka-angka itu segera runtuh. Logika tak berguna di tempat yang tak mengenal atas dan bawah. Jurang ini menelan aturan sebagaimana Negeri Ajaib menelan akal sehat.

Ketika akhirnya tubuhku menghantam sesuatu; tanah, batu, atau mungkin hanya kenyataan, rasa sakit tidak langsung datang. Yang lebih dulu hadir adalah keheningan. Keheningan yang menekan, seperti dunia sedang menunggu apakah aku layak bernapas lagi.

Aku kembali membuka mata. Gelap. Namun gelap ini berbeda. Bukan kegelapan yang mematikan, melainkan kegelapan yang tenang. Perlahan kesadaranku timbul: aku tidak dibuang untuk mati. Aku dibuang agar lenyap. Seperti Alice yang mengecil dan membesar tanpa kendali, di jurang aku kehilangan ukuran diriku sendiri—tidak penting, tidak terlihat, tidak diingat. Tapi justru di titik itu, sesuatu bergerak. Bukan tubuhku, melainkan kehendakku.

Jika dunia di atas sana ingin aku hilang, maka bertahan hidup adalah bentuk pembangkangan paling sunyi. Kuraba dinding jurang, mendengar napasku sendiri, memastikan bahwa suara itu masih ada. Seperti Alice yang terus bertanya siapa dirinya, aku berbisik dalam gelap, bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk memastikan bahwa pertanyaan itu masih bisa disuarakan.

Jurang ini bukan akhir. Ia hanyalah pintu, dan aku telah jatuh melewatinya.

Sekarang hanya ada aku dan Tuhan.

Aku harus berjuang dengan menggunakan kekuatanku sendiri. Jika aku tidak bergerak, hawa dingin dan gigitan nyamuk akan membunuhku pelan-pelan.

Aku berusaha berdiri lagi. Tapi naas, kali ini keseimbangaku buruk. Tubuhku ambruk ke depan dan kepalaku membentur pohon.

“Aaah!” Aku berteriak kesakitan. Sebuah cairan meleleh di kening, turun ke pipi. Aku mengusapnya. Dalam gelap, dari anyir baunya, aku bisa menebak itu darah yang mengalir.

“Aku harus hidup,” tekadku dalam hati. Aku menggunakan batang pohon itu untuk menyeimbangkan tubuh. Lalu, perlahan aku berbalik. Aku tentu harus memanjat naik.

Aku tidak tahu berapa kedalaman jurang ini. Aku tidak tahu apa saja yang berada di dalam jurang—binatang buas, atau ruh jahat? Tapi mereka mungkin tidak akan semenakutkan manusia yang melepaskanku dari tepi jurang, lalu berpaling seolah aku tak pernah ada.

Di sini, tak ada teriakan perintah atasan, tak ada tawa yang menertawakan jatuhku, memandangku sebelah mata seakan aku hidup hanya karena belas kasihan dan bukan kemampuan untuk bertahan. Tak ada mata yang menilai apakah aku pantas hidup atau mati. Aku menarik napas perlahan. Udara mencekam seperti rahasia yang terlalu lama disimpan. Setiap suara kecil: gesekan batu, tetesan air, terdengar begitu jelas di telinga.

“Ya Tuhan,” biskku. “Aku harus tetap hidup.”

Kata-kata itu nyaris tak terdengar, tenggelam di antara gema jurang. Namun setelah mengucapkannya, sesuatu berubah dalam diriku. Ketakutan yang tadi melumpuhkan kini mengeras menjadi tekad, tipis tapi cukup untuk membuatku bergerak.

Aku meraba dinding di sekelilingku. Batu-batu dingin dan licin, sebagian rapuh, sebagian tajam. Setiap sentuhan meninggalkan rasa perih di telapak tangan, tapi rasa sakit itu menegaskan satu hal: tubuhku masih ada. Nyawaku belum meninggalkan diriku.

Pelan-pelan aku mencari celah, tonjolan kecil yang mungkin cukup untuk menopang berat badanku. Kakiku gemetar saat menapak, napasku memburu. Beberapa kali batu runtuh dan jatuh kembali ke dasar jurang, suaranya seperti tawa yang mengejek upayaku. Namun aku tidak berhenti. Aku menolak kembali jatuh.

Lihat selengkapnya