Damar mengantarkanku pulang ke rumah. Saat itu, petugas dari kepolisian sudah menunggu bersama Ayah dan Ibu. Para petugas itu mengabarkan bahwa Bude Warti dan teman laki-lakinya sudah berhasil ditangkap. Tak lama lagi, mereka, bersama Asqi, akan ditetapkan menjadi tersangka. Mereka juga mengumpulkan informasi dariku, tentang bagaimana aku mereka buang ke jurang. Meski enggan, aku tahu aku harus menceritakan kembali pengalaman yang traumatis itu. Kata demi kata keluar dengan terbata dari bibirku yang bergetar. Setiap detail yang kusebutkan seakan menarikku kembali ke tepi jurang, ke detik ketika tanah menghilang dari bawah kakiku.
Beberapa kali aku berhenti, menelan napas, menahan airmata. Damar duduk tak jauh dariku, kehadirannya menjadi jangkar bagiku, di ruang tamu rumahku, bukan di kegelapan ingatan itu. Polisi mendengarkan tanpa menyela, mencatat dengan saksama, memberi jeda saat aku membutuhkannya.
Ketika akhirnya cerita itu selesai, aku merasa sangat lelah, namun juga sedikit lebih ringan. Luka itu belum hilang, tapi setidaknya kini ia tidak lagi hanya berdiam di dalam diriku. Ia telah menjadi kebenaran yang dicatat, didengar, dan diakui.
Malam itu, setelah para petugas pamit, rumah kembali sunyi. Saat itulah sakit di sekujur tubuhku kembali terasa. Kurasa ada patah di suatu bagian tubuhku. Bagian itu terasa begitu ngilu. Aku menggigil hebat. Damar yang menyadari hal itu menjadi panik.
“Kenapa? Apa yang kau rasakan?” tanyanya.
“Sakit sekali. Entah di bagian mana,” keluhku.
“Jangan-jangan ada yang patah,” gumam Damar. “Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga,” ia berkata.
“Tolong, Damar,” kata Ayah pula. “Bawa Jingga ke rumah sakit.”
Damar membantuku berdiri dengan sangat hati-hati. Setiap gerakan kecil membuatku meringis, napasku terputus-putus menahan nyeri.
Udara malam menusuk kulit, membuat gigilku makin tak terkendali. Damar melepas jaketnya dan menyelimutkanku sebelum membantuku masuk ke mobil.
Di perjalanan, lampu-lampu jalan melintas samar di balik mataku yang nanar. Aku memejamkan mata, berusaha bertahan dari rasa sakit yang datang bergelombang. Damar menyetir tanpa banyak bicara, rahangnya mengeras, seolah ia menanggung kecemasanku bersamanya.
Sesampai di rumah sakit, semuanya bergerak cepat. Aku didudukkan di kursi roda, didorong melewati lorong panjang berbau antiseptik. Seorang perawat bertanya tentang keluhanku, tapi aku hanya bisa menggeleng lemah.
“Sakitnya di mana?” tanyanya lagi.
“Aku… tidak tahu,” jawabku jujur.
Dokter memeriksaku dengan hati-hati, menekan beberapa titik, mengamati reaksiku. Aku meringis, menahan rintih, tapi tetap tak mampu menunjuk satu bagian tertentu.
“Sepertinya ada fraktur,” katanya akhirnya. “Tapi perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan.”
Kata fraktur terdengar berat di telingaku. Aku menelan ludah, merasa tubuhku sendiri masih menyimpan cerita yang belum selesai diungkapkan.
Saat aku didorong menuju ruang rontgen, aku melirik Damar. Ia berjalan di sampingku, tak melepaskan pandangannya.
“Tenang, ya. Kau aman sekarang,” katanya pelan.
Dan di bawah cahaya lampu putih rumah sakit, di antara nyeri dan lelah yang mengimpitku, aku mencoba memercayainya.
***
Malam itu, aku terpaksa menginap di rumah sakit. Meski keinginanku untuk pulang begitu kuat—sekadar berbaring di ranjang sendiri dan menutup hari yang panjang—Dokter tidak mengizinkannya. Ada sesuatu yang serius dengan kondisiku, sesuatu yang belum bisa dipastikan sepenuhnya, dan mereka tak ingin mengambil risiko.
Damar berdiri di pihak yang sama. Nada suaranya tegas, nyaris tak memberi ruang kepadaku untuk membantah. Ia memintaku berhenti keras kepala, menyuruhku memikirkan tubuhku sendiri, setidaknya untuk malam itu. Aku tahu ia benar, tapi menerima kebenaran itu terasa sama beratnya dengan menahan nyeri di tubuhku.
Akhirnya aku menyerah. Lelah oleh rasa sakit dan kejadian yang bertubi-tubi, oleh diriku sendiri yang terlalu lama memaksa bertahan. Aku dibaringkan di ranjang rumah sakit, selimut putih menutupiku sampai dada. Selang infus dipasang di lenganku. Aku harus beristirahat sampai esok hari, sampai Dokter memutuskan penanganan selanjutnya.