Rumah yang Tak Disinggahi Matahari

Ambhita Dhyaningrum
Chapter #21

Hujan Mulai Reda (TAMAT)

Seperti kata Damar, setiap keluarga memiliki kisahnya sendiri—kisah yang tidak selalu rapi, tidak selalu pantas dibanggakan, dan sering kali dipenuhi celah-celah sunyi. Dan kini aku tahu, aku harus mulai menerima bahwa cerita itulah, dengan segala retaknya, yang menjadi bagian dari hidupku. Bukan untuk disesali terus-menerus, melainkan untuk dipahami, lalu disusun kembali.

Misteri ucapan Bude Warti tentang dendam Tante Cacha tampaknya akan tetap menjadi rahasia. Ibu berusaha meyakinkanku bahwa semua itu hanyalah upaya terakhir untuk mengacaukan pikiranku—kata-kata yang sengaja dirangkai agar aku ragu, agar aku terpecah dari keluargaku sendiri. Apa yang ia beberkan, termasuk soal uang lima juta rupiah dari Tante Cacha, kata Ibu, tidak benar seperti yang digambarkan. Uang itu memang dikirimkan Tante Cacha, tetapi bukan untuk kepentingan tersembunyi apa pun; itu hanyalah tambahan upah sebagai bentuk terima kasih karena telah merawat kami selama ini.

Logikaku belum sepenuhnya mampu menerima penjelasan itu. Ada bagian-bagian yang terasa ganjil, ada pertanyaan yang masih menggantung. Namun aku memilih berhenti menggali. Karena aku pun tahu, apa yang Bude Warti tuduhkan kepadaku juga tidak sepenuhnya bohong, meski jelas tidak seluruhnya benar. Bahwa kemarahanku pernah menjadi awal dari peristiwa yang merenggut nyawa Awan—itu adalah fakta yang tak bisa kuhindari. Begitu pula dengan sebagian ucapannya tentang hubungan Tante Cacha dan Ayah di masa lalu; mungkin ada serpihan kebenaran di sana. Namun Ibu tampaknya memilih menutup tirai itu rapat-rapat, dan untuk saat ini, aku tidak lagi berani menyibaknya.

Polisi telah berhasil menangkap Bude Warti dan teman laki-lakinya. Bersama Asqi, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah mereka rencanakan dengan dingin dan penuh tipu daya. Niat mereka melarikan diri ke luar negeri dengan uang hasil merampok Ayah selama bertahun-tahun tak pernah terwujud. Rencana melenyapkanku dengan membuangku ke jurang pun berakhir sia-sia. Ada kepuasan pahit saat mengetahui keadilan mulai bekerja, meski luka yang mereka tinggalkan tak akan serta-merta hilang. Dalam diam, aku berharap mereka menebus semuanya dengan waktu yang panjang di balik jeruji.

Kini, aku yakin tak lagi harus menghadapi semua sendiri. Ada Damar yang berjanji menemani. Aku merasa yakin pada sikapnya yang menenangkan, dengan kesabaran dan ketulusan yang tarpancar di raut wajahnya. Ia tak banyak berkata, namun genggaman jemarinya menguatkanku. Genggaman itu sederhana, tanpa janji, tanpa kata-kata besar. Namun kehangatannya menjalar, memberi isyarat bahwa aku tidak harus menanggung semuanya sendirian. Dan itu sudah cukup bagiku—cukup untuk berdiri, cukup untuk menarik napas, cukup untuk memulai hari dengan sedikit keberanian.

Setelah tujuh belas tahun kehilangan sosok Ibu, merasa tak punya siapa-siapa, dikhianati orang yang kupercaya, kini aku mulai membangun kepercayaan yang rapuh dalam diriku. Kurasa, keluarga kami layak mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bahagia. Bukan karena masa lalu bisa dihapus, tetapi karena kami telah melewatinya dan masih memilih untuk bertahan. Luka-luka itu nyata, jejaknya masih ada, namun bukan berarti ia harus terus menentukan arah langkah kami. Ada saatnya berhenti menyalahkan keadaan, berhenti menoleh terlalu sering ke belakang, dan mulai menerima bahwa hidup memberi ruang untuk memperbaiki segalanya.

Lihat selengkapnya