Blurb
Sejak kecil, Abay tidak pernah benar-benar memiliki tempat untuk pulang.
Lahir dari keluarga yang berjuang dalam kemiskinan, ia terbiasa ditinggalkan, dititipkan, dan hidup dalam kekurangan. Baginya, atap dan dinding bukan simbol kehangatan, melainkan ruang hampa yang hanya mengajarkannya satu seni paling menyakitkan: menahan diri.
Ia belajar untuk tidak meminta.
Ia belajar untuk diam.
Karena setiap harapan. . . hanya berujung kekecewaan.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk menarik seseorang dari sudut gelap. Pertemuannya dengan Tian—sosok yang membawa spektrum warna ke dalam hidupnya yang monokrom—serta sebuah warnet kecil di sudut kota, perlahan membuka jendela yang selama ini tertutup rapat.
Di antara deru mesin komputer dan pendar layar, Abay menemukan hal-hal yang selama ini dianggapnya mustahil: pengakuan, kesempatan, dan serpihan harga diri yang mulai ia susun kembali.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin ia sadar—luka masa kecilnya tidak pernah benar-benar pergi.
Dalam perjalanan tumbuhnya, Abay tidak hanya belajar tentang mimpi dan masa depan, tapi juga tentang satu hal yang paling sederhana, namun paling sulit ia pahami:
apa arti sebuah rumah.
Apakah rumah adalah tempat ia dilahirkan?
Atau. . . tempat di mana ia akhirnya diterima?