Orang-orang bilang, rumah adalah tempat… untuk pulang. Tapi tidak ada yang pernah mengajariku bagaimana rasanya… diterima.
Saat ini, aku duduk di ruang makan yang penuh tawa. Deandra—kawan baikku sejak SMA, berulang tahun. Ibu dan Adiknya turut mengundangku untuk merayakannya.
“Ayo, Bay, jangan cuma lihat. Ambil lauknya,” ucap Ibu Lisa, tersenyum hangat. Aku mengangguk kecil.
“Iya, kasian tuh nasi di piring, nggak ada yang nemenin,” celetuk Deandra. Ibu Lisa dan Diana—adik perempuan Deandra—terkekeh menatap piringku yang sejak tadi aku abaikan.
Di sekelilingku, mereka tertawa, saling menyela, saling memanggil dengan nada yang akrab. Rasanya… seperti sedang melihat dunia kecil yang sering aku impikan.
Aku hadir. Tapi entah kenapa… rasanya seperti berdiri di ambang pintu. Tidak masuk. Tapi juga tidak benar-benar keluar.
Saat lilin ulang tahun ditiup, semuanya bertepuk tangan. Aku tertegun. Menatap kebahagiaan yang terasa begitu utuh… namun juga begitu jauh.
Tanpa aku sadari, setetes air mata jatuh mengalir di pipiku.
“Abay, sini!” Ibu Lisa memanggilku. Mereka hendak mengabadikan momen bahagia ini. “Nggak usah, Tante,” tolakku sambil menggeleng pelan.
Aku beranjak, berniat mengambil foto mereka bertiga.
Tapi tiba-tiba, tangan Ibu Lisa menahanku. Beliau menarikku masuk. Lalu merangkul pundakku.
Seketika… aku membeku. “Tan… harusnya kan Diana yang di sini—”
“Udah,” potong beliau lembut. “Kamu kan juga bagian dari rumah ini.” Aku langsung menoleh ke Deandra. Ia mengangguk kecil.
Dan saat itu… sesuatu di dalam dadaku runtuh. Bukan karena penyakitku kambuh. Bukan juga karena sesak yang biasa datang.
Tapi karena… untuk pertama kalinya, aku tahu seperti apa rasanya punya rumah. Dan anehnya—itu bukan milikku.
15 tahun lalu…
Dulu… aku tidak tahu apa itu rumah. Yang aku tahu… hanyalah tempat untuk menunggu. Menunggu pintu terbuka.
Menunggu suara langkah kaki. Dan yang paling sering—
menunggu rasa lapar hilang dengan sendirinya.
Aku terlahir miskin.