Suasana aula kesenian itu hening. Bukan karena tak ada suara—melainkan karena setiap nada yang keluar dari tuts piano terasa terlalu hidup untuk diabaikan.
Jemari Lunara bergerak pelan, seolah ragu namun pasti. Setiap sentuhan melahirkan harmoni yang sendu, merayap pelan ke dada siapapun yang mendengarnya.
Ia tersenyum. Tipis. Hampir tak terlihat.
Seolah-olah yang ia mainkan bukan sekadar musik—melainkan sesuatu yang telah lama ia pendam sendirian.
Nada terakhir jatuh. Sunyi sesaat. Lalu tepuk tangan menggema, memenuhi seluruh ruangan.